Inisiator Gerakan Regenerasi Kepemimpinan Partai Golkar Agun Gunandjar Sudarsa menyerukan kepada seluruh peserta Musyawarah Nasional (Munas) IX Golkar di Bali menyelamatkan partai dengan bersikap jujur dan berani.

“Kepada seluruh DPD (peserta munas) inilah saatnya untuk jujur dan berani menyelamatkan partai dari oligarki yang penuh tekanan dan ancaman, gunakanlah kesempatan baik ini,” ujar Agun melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu (30/11) malam.

Agun yang juga merupakan anggota Tim Penyelamat Partai meminta peserta munas untuk tidak terlalu mudah mendengarkan pidato Aburizal Bakrie, yang menurutnya merupakan pemutarbalikan fakta.

Agun mendapatkan laporan bahwa sidang Komisi A di dalam Munas Bali diputuskan secara sepihak, dan diketok dalam posisi banyak peserta rapimnas melakukan protes dengan posisi berdiri. Pengambilan keputusan juga tidak meminta persetujuan lebih dahulu peserta sidang komisi.

“Terjadi keributan yang hampir chaos, seperti dalam rapat pleno DPP tanggal 24 dan 25 November lalu dengan agenda persiapan munas, di mana Aburizal tidak dapat menyelenggarakan sampai tuntas,” ujar Agun.

Agun mengingatkan selama masa kepemimpinan Aburizal Bakrie, banyak hal yang perlu dipertanyakan antara lain realisasi KTA berasuransi yang bermasalah di mana pihak asuransi tidak mau membayar, karena uang premi yang dibayarkan anggota/pengurus/anggota DPR tidak disetorkan ke pihak asuransi.

Selain itu juga realisasi bantuan rutin untuk DPD, janji dana abadi Rp 1 triliun untuk kelangsungan hidup partai, hingga gedung bertingkat untuk DPP.

“Semua tak ada yang terealisasi dengan baik dan benar. Mana bantuan untuk sukses Pemilu Legislatif 2014, malah mengundang orang lain untuk hadir dalam munas dan berlomba dalam munas di mana segalanya sudah diatur tanpa dirapatkan lebih dahulu. Baik penyelenggaranya, pimpinan sidangnya, materinya, tata tertibnya, semua penuh rekayasa,” tegas dia.

Pada hari ini, DPP Partai Golkar dibawah pimpinan Aburizal Bakrie menyelenggarakan Munas IX Golkar di Bali. Munas yang dijadwalkan berlangsung 30 November-3 Desember 2014 ini ditentang oleh sejumlah kader yang menginginkan proses regenerasi terjadi di kepemimpinan Golkar. (bs/ant)