Indopolitika.com  Salah satu pendiri Partai Gerindra yang juga anak proklamator Mohammad Hatta, Halida Hatta menyampaikan kritiknya untuk panggilan Hatta Rajasa. Menurutnya cawapres nomor urut satu itu tak harus dipanggil Bung Hatta. Pasalnya itu akan membuatnya hilang dari perspektif sejarah.

Teriakan “Bung Hatta, Bung Hatta!” dalam debat cawapres, Minggu (29/6/2014), sepertinya membuat anak Mohammad Hatta risih. Pasalnya teriakan itu justu tidak menujukkan jati diri Hatta Rajasa. Halida pun menulis di status facebooknya.

“Ha-ha-ha… kok Pak Hatta Rajasa di-yel-yel ‘Bung Hatta… Bung Hatta…’? Kasihan bangsa ini enggak punya perspektif sejarah. Hatta Rajasa adalah anak sejarah masa kini dong… harusnya Abang Hatta atau Pak Hatta Rajasa sekalian…,” tulis Halida di dinding Facebook nya.

Berbagai komentar bermunculan dari temannya di Facebook. Sebagian berpendapat Hatta Rajasa memang tak bisa dibandingkan dengan sang Proklamator. Beberapa setuju dengan pendapat Halida.

Bahkan, ada yang menyarankan Halida untuk mengajukan keberatan soal penggunaan panggilan Bung Hatta. Ada pula yang menyarankan agar hal itu menjadi hak cipta atau copyright. Menanggapi hal tersebut, Halida menjawab tak perlu ada hak cipta.

“Kalau bangsa ini menghargai setiap penggal sejarah kebangsaannya sendiri, seharusnya tidak harus ada copyright, tetapi sudah harus tahu nuansa-nuansa sejarahnya sesuai zamannya,” ujar Halida.

Halida sebetulnya tidak mempersoalkan jika memang sebutan ini merupaka bentuk kekaguman pada ayahnya. Namun hal ini akan membuat Hatta Rajasa hilang dari perspektif sejarah.

“Kepada Bapak Hatta Rajasa branding Abang Hatta atau Pak Hatta Rajasa lebih menampilkan kinerja, jati dirinya sendiri untuk masa kini, masa pasca-reformasi. Ini menurut saya begitu,” tulis Halida.

Halida  adalah seorang profesional dan politisi Indonesia. Putri bungsu Bung Hatta itu sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Bidang Kesra di DPP Partai Gerindra, namun kemudian mengundurkan diri. (sp/ind)