Hajriyanto Y Thohari menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar dan anggota Presidium Penyelamat Partai.

“Saya mau mundur dari ketua DPP dan anggota presidium penyelamat partai, karena semuanya tidak konsisten,” kata Hajriyanto Y Thohari di Jakarta, Kamis, 27 November 2014.

DPP Partai Golkar pimpinan Aburizal Bakrie memutuskan akan melaksanakan Musyawarah Nasional IX di Bali pada 30 Nopember-3 Desember 2014. Namun, kubu Agung Laksono membentuk Presidium Penyelamat Partai dan memutuskan akan melaksanakan Munas pada Januari 2015.

Hajriyanto menilai kedua kubu (Aburizal maupun Agung) sama-sama tidak konsisten.

Hajriyanto menjelaskan bahwa sebelumnya pihak lawan-lawan Aburizal menghendaki munas dipercepat sesuai AD/ART pada bulan Oktober 2014. Namun, Aburizal menolak dan bersikukuh munas diselenggarakan pada tahun 2015 sesuai amanat Munas Golkar di Pekan Baru.

Kini, kata Hajriyanto, yang terjadi justru sebaliknya, kubu Aburizal Bakrie mempercepat pelaksanaan Munas pada 30 November-3 Desember 2014 di Bali. Sementara kubu Agung Laksono yang membentuk Presidium Penyelamat Partai justru memutuskan munas pada Januari 2015.

“Jadi, keduanya sama-sama tidak konsisten,” kata mantan Wakil Ketua MPR tersebut.

Menurut Hajriyanto, konflik di internal Golkar menjelang munas terjadi karena adanya ketidakpercayaan sehingga semua saling curiga.

Hajriyanto menjelaskan, sejak Rapimnas Golkar di Yogyakarta bulan lalu, sudah ada ketidakpercayaan. Sebagian mencurigai Rapimnas di Yogyakarta itu akan dimobilisasi menjadi munas untuk memenangkan Aburizal Bakrie.

“Ketidakpercayaan itu terus terjadi sampai saat ini,” kata Hajriyanto.

Hajriyanto berharap kedua belah pihak bisa mencapai kompromi sehingga akan ada munas hasil kompromi yang dihadiri kedua belah pihak. Jika tidak, Hajriyanto khawatir perpecahan akan semakin meruncing dan sulit untuk diselesaikan.

“Saya akan tetap maju sebagai calon ketua umum, tapi saya akan maju dalam munas hasil kompromi,” katanya. (ant)