Barisan Pemberantas Mafia Telekomunikasi (BATMAN TELKO) mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera mengambil alih kasus korupsi Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan  (MPLIK) dan Penyedia Layanan Internet Kecamatan (PLIK) yang ditangani oleh kejaksaan Agung.

“Dalam hal ini kami merasa prihatin dengan terkatung-katungnya  kasus Korupsi Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan  (MPLIK) dan Penyedia Layanan Internet Kecamatan (PLIK) tahun 2010-2012  yang  sudah berjalan dua tahun,” ungkap koordinasi aksi, Suleng Abdi Nagara, Selasa(07/10/2014).

Menurutnya, Kejaksaan Agung sudah menetapkan dua tersangka kasus korupsi PLIK/MPLIK, yakni, Santoso Serrad, Kepala Badan Penyedia dan Pengelola Pembiayaan dan Informatika  dan Direktur PT Multidana Rencana Prima Dodi N Achmad. Total nilai proyek PLIK/MPLIK sebesar 1,4 trilyun rupiah.

Ia mengatakan, sejumlah saksi akan diperiksa oleh Kejaksaan Agung, diantaranya adalah Arief Yahya yang sekarang menjadi Direktur Utama Telkom.

Telkom, lanjut Suleng, merupakan pemenang tender terbesar dalam pengadaan MPLIK, dengan mengerjakan enam paket proyek. Sedangkan sisanya digarap oleh PT Multidana Rencana dua paket, Rednet satu paket PT AJN Solusidono tiga paket, PT Win dan Lintas Arta masing-masing satu paket.

“Namun hingga saat ini belum ada satupun tersangka yang ditahan oleh Kejaksaan Agung,” tegasnya.

Seperti diketahui, Pengadaan MPLIK/PLIK di BP3TI Kementerian Kominfo diduga terdapat sedikitnya dua kasus dugaan korupsi yang terpisah satu sama lain. Pertama, dugaan kasus korupsi MPLIK di PT Telkom yang diduga melibatkan mantan Direktur EWS Telkom Arief Yahya (sekarang Dirut Telkom), VP EWS Telkom Abdus Somad, Alex J Sinaga, mantan  Direktur Utama PT Pramindo Ikat Nusantara (sekarang Dirut Telkomsel), dan seterusnya. Diduga kerugian negara akibat korupsi MPLIK di PT Telkom ini sedikitnya Rp 28,5 miliar.

Kedua, adalah kasus korupsi pada pemenuhan kewajiban para kontraktor pemenang lelang pengadaan MPLIK/PLIK BP3TI Kominfo, yang menurut LHP (Laporan Hasil Pemeriksaan) BPK Tahun 2013 terdapat kerugian negara lebih Rp 149 milyar.

Berlarut-larutnya proses penyelidikan yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung, menimbulkan ketidakpastian hukum penuntasan kasus tersebut. Rencana  Kejaksaan Agung yang akan memanggil Arif Yahya sebagai saksi pun gagal total. Dua kali dipanggil  Arif  Yahya belum juga menunjukkan batang hidungnya di Kejaksaan Agung. Meskipun kejaksaan Agung sudah mengancam  akan memanggil paksa Arif Yahya, pada awal tahun 2014, namun hingga sekarang tidak ada realisasinya.Terkesan Kejaksaan Agung tidak memiliki taring, memanggil para pihak yang terkait dengan kasus MPLIK.

Untuk itulah, BATMAN TELKO mendesak kepada KPK agar KPK mengambil alih kasus tersebut dari Kejaksaan Agung, secepatnya menyeret pelaku utama kasus PLIK /MPLIL, mendukung KPK untuk menuntaskan kasus tesrbut, dan mengusut tuntas mafia industri telekomunikasi.(kk/ind)