Indopolitika.com   Pertanyaan Jokowi yang ditujukan ke Prabowo Subianto saat debat calon presiden (Minggu 15 Juni 2014) dinilai tak sepenuhnya berasal dari dirinya. Pertanyaan Jokowi malah terkesan “titipan” dengan sesekali cenderung menjebak lawan bicaranya.

“Pertanyaan seperti ‘apa pendapat bapak tentang DAU dan DAK’ juga ‘apa pendapat bapak tentang TPID’ ini kok saya tidak yakin dari Jokowi,” kata pengamat komunikasi politik Fathurahman Sidiq di Jakarta Selatan, Selasa (17/6).

Selain karena pertanyaan itu terlalu simpel, Jokowi juga tidak menjelaskan maksud beserta konteks pertanyaannya. Jokowi juga dianggap tidak begitu percaya diri dalam menyampaikannya.

“Siapa pun ditanya begitu pasti bingung, maksudnya apa, arahnya kemana? Kalau Jokowi memang percaya diri, dia akan jelaskan konteks masalahnya apa dan kenapa pertanyaan itu penting,” ujarnya.

Pertanyaan semacam itu, lanjutnya, tidak cocok dikemukakan dalam panggung debat sekelas capres yang disiarkan secara nasional. Pertanyaan itu, ucapnya, lebih mirip tes wawancara masuk kerja.

“Harusnya lebih analitis, mengurai persoalan kebangsaan. Apalagi dia mengaku berpengalaman, paham lika-liku dunia pemerintahan. Harusnya lebih luwes, artikulatif, menyasar masalah utama pemerintahan,” tegasnya.

Ia meyakini, sebenarnya ada latar belakang pemikiran yang cukup penting di balik pertanyaan Jokowi. Hanya saja hal itu gagal diungkap karena beberapa persoalan. “Bisa jadi karena hanya orang lain di balik itu yang mengerti, bisa jadi juga karena keterbatasan Jokowi dalam mengungkapkannya,” terang Fathurahman.

Namun demikian, terlepas apakah pertanyaan itu titipan orang lain atau ditujukan untuk menjebak Prabowo, menurutnya Jokowi telah kehilangan orisinalitasnya.

“Jokowi tak tampil apa adanya lagi, hilang kepolosannya,” tandasnya. (Ind)