Melalui tulisan yang diunggah di blog pribadinya, sanggerilya.com, Indra Jaya Piliang menuliskan seputar kasus yang tengah dihadapinya. Tulisan itu dimuat dengan judul ‘Berlian’. Berikut pernyataan terbuka Indra yang diberi judul ‘Berlian’ :

BERLIAN

Selama ini, saya tak pernah tahu tentang dunia malam. Selama menjadi mahasiswa Universitas Indonesia, sampai menjalankan karier sebagai peneliti dan politisi, saya amat sangat jarang memasuki dunia malam. Paling banter saya hanya bernyanyi di karaoke, itu pun bersama dengan sahabat-sahabat terbaik. Saya juga tak terbiasa dengan sajian yang diberikan, termasuk minuman keras.

Saya memilih untuk tak menulis tentang kasus yang membuat nama saya, keluarga saya, klan saya, agama saya dan segala sesuatu yang terhubung dengan saya menjadi tercoreng. Saya mohon maaf kepada seluruhnya. Saya mohon ampun kepada Allah SWT atas apa yang saya perbuat di alam fana ini.

Tetapi, mengingat saya mengikuti proses yang belum selesai, saya tentu tak bisa berbuat banyak. Saya hanya perlu menyampaikan, betapa ada sejumlah pihak yang mengalami persoalan besar, bahkan mungkin lebih besar dari saya, terkait dengan masalah hukum dan kesehatan yang terjadi dengan diri saya. Untuk itu, saya perlu menyampaikan ini secara terbuka. Tentu, kalangan yang di luar keluarga besar saya yang sekarang dalam posisi teramat tertekan.

Siapa mereka? Yakni para karyawan (penuh dan paroh waktu) dan non karyawan yang mencari nafkah di Diamond (berlian), sebuah diskotik dan lounge yang jaraknya sekitar 10 menit perjalanan dari rumah saya.

Mereka adalah orang-orang yang mencari hidup di belantara Jakarta. Mereka terdiri dari para office boy and girls, para waiter, para kapten, para security, para juru parkir, para penjual makanan, para sopir (taksi dan grab/uber), para ladies companion, para mami dan pihak-pihak yang menanggung akibat dari kasus saya. Saya selama ini berkomunikasi dan berinteraksi dengan mereka, sekalipun saya tak mengingat nama mereka.

Bagi saya, mereka adalah orang-orang bersahaja. Mereka bekerja bahkan mungkin melebihi upah yang mereka terima. Saya melihat mereka selama ini (sebagian) sangat rajin beribadah, bahkan sama sekali tak pernah meminta uang tips seperser pun dan mungkin juga mayoritas tak pernah mendapatkan uang tips dari saya. Mereka menjadi pelayan yang baik dalam kelamnya dunia hiburan siang dan malam di Jakarta.

Saya meminta maaf kepada mereka, karena atas masalah yang saya hadapi, mereka menjadi tak jelas nasibnya sebagai pencari nafkah di keluarga masing-masing. Rata-rata mereka hanya menempuh pendidikan sekolah menengah pertama atau sekolah menengah atas. Mereka bukanlah orang-orang yang memiliki keahlian khusus, tak menerima juga pelatihan menyangkut bidang pekerjaan yang mereka terjuni.

Banyak di antara mereka yang tak bisa bernyanyi atau menari, sebagaimana pertama kali saya mengenal mereka. Nyanyian yang saya bawakan, seringkali tak dikenal oleh mereka, karena berasal dari masa lalu dalam tajuk Album Kenangan, baik dalam bahasa Indonesia, bahasa daerah, hingga bahasa Inggris, bahasa India dan bahasa Jepang yang saya kuasai.

Dengan sepenuh hati, saya meminta pihak manajemen yang selama ini meraih keuntungan dari keringat mereka, agar memperhatikan nasib mereka. Jangan sampai mereka berserakan di tempat yang lebih nadir lagi, hanya karena pelanggaran hukum yang dikerjakan oleh segelintir pihak, termasuk saya dan anggota-anggota saya yang kini sedang menata kehidupan bersama-sama.

Saya meminta agar mereka menjadi pihak pertama yang penting diperhatikan masa depannya. Sebagian di antara mereka, saya ketahui sedang menanti putra atau putri mereka keluar dari dalam rahim mereka sendiri atau dari pasangan mereka masing-masing.

Biarlah, dalam perang yang tak berkesudahan ini, nama-nama yang gugur adalah sosok-sosok yang layak gugur, tapi bukan kalangan kawulo dan jelata yang selama inipun berada dalam strata kehidupan paling bawah dalam sektor-sektor informal pekerjaan di bumi manusia.

Sungguh, saya tak punya lagi kata-kata yang bisa untuk ditulis dan ditujukan kepada mereka. Tetapi dengan segenap ketulusan jiwa, saya mengaturkan permohonan kepada pihak yang memiliki kewenangan dan kedudukan di manajemen ataupun pemerintahan; agar menempatkan mereka sebagai prioritas pihak yang wajib diselamatkan. Apapun jalan keluarnya, saya menyerahkan kepada pihak yang terkait.

Indra J Piliang