Bendahara Umum Partai Golkar, Setya Novanto ramai diberitakan menjadi calon Ketua DPR yang akan diusung oleh koalisi merah putih. Meskipun Ketua Umum DPP Partai Golkar, Aburizal Bakrie alias Ical belum memberikan kepastian namun, Setya dikenal sebagai orang dekat dan loyalis Ical.

Isu pencalonan Setya pun mendapatkan beragam tanggapan negatif dari berbagai kalangan karena Setya dianggap berlumur kasus dugaan korupsi sehingg dinilai tidak elok menjadi ketua DPR.

Pengamat Politik, Pusat Studi Politik Nusantara (PSPN), Abdul Razak menilai, Setya Novanto tidak elok jika menjadi Ketua DPR. Menurutnya lembaga tinggi perwakilan rakyat itu, akan semakin buruk citranya di mata publik. “Setya Novanto banyak disebut dalam berbagai dugaan kasus korupsi, sehingga tidak elok menjadi ketua DPR. Nanti DPR akan menjadi buruk citranya di mata publik”, Jelas Razak saat dihubungi, Kamis 28/8.

Berikut catatan redaksi, beberapa dugaan kasus korupsi yang disinyalir melibatkan Setya Novanto.

Kesaksian Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin bahwa Setya Novanto terlibat dalam kasus korupsi E-KTP dan proyek pengadaan pemasokan barang kelengkapan pengamanan Pemilu 2009 (baju hansip). Atas pengakuan ini, Nazaruddin mengaku mendapatkan ancaman pembunuhan dari Setya Novanto.

Keterlibatan Setya Novanto dalam kasus suap sengketa pemilukada salah satunya sengketa pemilukada Jawa Timur, yang melibatkan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Akil Mochtar. Dalam kasus ini Setya Novanto masuk dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) beberapa saksi.

Belum selesai disana, Bendahara Umum Partai Golkar Setya Novanto disebut-sebut terlibat kasus suap anggaran PON 2012 di Riau. Menjabat Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR, Setya diduga sebagai orang yang mempunyai peran penting dalam mengatur aliran dana ke anggota Komisi Olahraga DPR untuk memuluskan pencairan anggaran PON di APBN.

Pada tahun 1999, Setya Novanto pun disebut-sebut bersama Djoko S. Tjandra, Setya ditetapkan sebagai tersangka kasus pengalihan hak tagih Bank Bali. Kasus ini meletup setelah Bank Bali mentransfer dana Rp 500 miliar lebih kepada PT Era Giat Prima, milik Setya, Djoko, dan Cahyadi Kumala. Tapi, hingga kini, kasus tersebut tak jelas ujungnya.

Pada 2010, nama Setya tersangkut kasus penyelundupan beras dari Vietnam sebanyak 60 ribu ton. Langganan Anggota DPR itu juga disebut terlibat penyelundupan limbah beracun (B3) di Batam pada 2006.

Setya pun dituding sebagai otak di balik korupsi cost recovery dengan modus mark up EPC (equipment procurement contruction) pada Blok Migas Kangean, Lapangan Terang – Sirasun – Batur, senilai US$ 1,04 miliar atau Rp. 12 triliun.

Sederet kasus korupsi  di atas,  yang diduga melibatkan Setya Novanto harusnya menjadi catatan penting Partai Golkar dalam mencalonkan Setya Novanto. “jika Partai Golkar tetap mencalonkan Setya Novanto, maka Partai ini diragukan komitmenya dalam memerangi kejahatan korupsi” pungkas Razak. (red)