Indopolitika.com   Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menilai Debat Calon Presiden (Capres) II antara Capres Prabowo Subianto dengan Capres Joko Widodo yang disiarkan stasiun tv swasta pada Minggu malam (15/6),  tidak ada yang menang dan yang kalah secara mutlak.

“Debat ini tak berdampak elektoral yang besar. Sebagaimana debat calon presiden pertama (9/6), di debat kedua (15/6) tak ada yang menang dan kalah mutlak,” katanya lewat twitternya @DennyJA_World, Senin, (16/6).

Menurut Denny,  berdasarkan data survei LSI sebelum debat, selisih elektabilitas (dukungan publik) keunggulan Capres Jokowi terhadap Capres Prabowo kini hanya 6 persen saja.

“Debat tidak mengubah peta dukungan pemilih kedua capres,” ujarnya.

Denny menegaskan,  yang akan mengubah dukungan terhadap dua capres adalah “serangan udara” (kampanye melalui media sosial -red) dan “serangan darat” (kampanye melalui pengurus partai dan relawan memalui tatap muka -red), menjelang Pilpres, 9 Juli 2014.

Koordinator Geralkan Ayo Majukan Indonesia itu, menjelaskan, dalam debat semalam bahawa Capres Prabowo memang terlihat kuat di abstraksi dan visi besar. tapi lemah di detail.

Sebaliknya Capres Jokowi tampak lemah di gaya bicara dan Jokowi terbiasa banyak kerja sedikit bicara. “Jika yang dinilai hanya gayanya, Jokowi kalah dalam debat semalam. Namun jika dinilai substansinya, Jokowi menang,” kata Denny.

Dia menambahkan, substansi Jokowi lebih banyak bersandar pada yang mikro dan pengalaman di pemerintahan dan Jokowi terkesan lebih berorientasi praktis dan mikro.

Namun, dalam studi debat presiden, Capres Prabowo lebih diuntungkan, yaitu untuk pemilih umum yang mayoritas, pemilih lebih terkesan oleh gaya. “Hanya sekelompok ahli yang minoritas yang lebih menilai substansi. Pemilih ini lebih melihat kesahihan informasi dan gagasan.” ujar Denny. (Ant/ind)

Pemilu Presiden, 9 Juli 2014 diikuti dua pasangan capres dan cawapres, yaitu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla. (*/ant/ind)