Indopolitika.com  Keputusan Calon Wakil Presiden (cawapres) nomor urut 1, Hatta Rajasa untuk menyelenggarakan tarawih perdana dirumahnya sekaligus memulai puasa perdana tidak mengikuti jadwal Muhammdiyah diduga alasan politis.

Pengamat Politik Islam dari Forum Study Islam dan Masyarakat (FOSIM), Abdul Qodir Jaelani menduga, Hatta Rajasa telah mengikuti naluri politik. Alih-alih mengikuti puasa menurut kalender Muhammadiyah. Hatta Rajasa malah secara demonstratif menyelenggarakan tarawih perdana di rumahnya di bilangan fatmawati, Jakarta.

“Ini pertimbangan politik yg cerdik. Hatta sengaja meng-appeal NU yang jumlahnya konstituennya lebih banyak dari Muhammadiyah,” kata Qodir, Minggu, (29/6).

Menurut Qodir, Hatta seakan ingin menonjolkan bahwa dirinya memiliki latar belakang NU. Bahkan banyak perbincangan bahwa Hatta disebut orang NU yang memimpin PAN. Padahal, PAN selama ini selalu mengidentifikasikan diri sebagai partai-nya orang Muhammadiyah. Hatta pun demikian.

“Hatta sudah merasa yakin warga Muhammadiyah tidak punya pilihan selain milih dia. Karena itu, dia harus rangkul NU. Ini cerdik tapi bukan tanpa masalah,” ujarnya.

Masalahnya, kata dia, dari sisi kepartaian, akan menjadi noda hitam bagi PAN di masa yang akan datang. “Apakah PAN masih valid bicara sebagai representasi Muhammadiyah? Atau ini memang cara PAN untuk melepas diri dari Muhammadiyah?” urainya.

Yang paling penting, kata dia, warga nahdliyin tetap harus berhati-hati dari akal-akalan politik belaka atau bentuk simbolis Hatta mengungkap jati dirinya yang asli. “Jika ceroboh dalam memilih, Warga NU maupun Muhammadiyah sangat mungkin bisa sama-sama tertipu di akhirnya,” pungkas dia. (Ind)