Jakarta – Gubernur Banten Rano Karno terungkap pernah menerima uang sebesar Rp 700 juta dari adik mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, Tubagus Chaeri Wardhana alias Wawan melalui anak buahnya, Dadang Priyatna. Uang itu diberikan terkait pengadaan alat kesehatan RS Rujukan Provinsi Banten Tahun Anggaran 2012 saat Rano menjabat wakil gubernur Banten.

Hal itu diakui mantan Kepala Dinas Kesehatan Banten Djaja Buddy Suhardja dan mantan Sekretaris Ajat Drajat Ahmad Putra saat menjadi saksi dalam sidang perkara korupsi Atut di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (15/3).

Awalnya, Jaksa Budi Nugraha mengkonfirmasi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) soal percakapan antara Djaja dan Dadang. Dadang mengatakan kepada Djaja bahwa Rano Karno akan sering meminta jatah 0,5 persen dari anggaran APBD dan APBD-P senilai Rp 235,52 miliar kepada Ajat Drajat. Hal itu lantas diakui oleh Djaja.

Jaksa Budi juga mengkonfirmasi soal pemberian uang yang diantarkan Djaja langsung kepada Rano Karno. Di antaranya uang sebesar Rp 150 dan Rp 350 juta.

Biasanya, sebelum memberikan uang kepada Rano, Djaja berkomunikasi dengan ajudan Rano bernama Yadi.”Ajudan Rano mengingatkan Pak Wagub ada di tempat. Anda mengatakan tunggu sebentar mau ketemu seseorang?” tanya Jaksa Budi.”Betul. Langsung kepada beliau (Rano, Red),” jawab Djaja.

Djaja juga mengaku pernah beberapa kali memberikan uang sebesar Rp 50 juta dari Dadang Priyatna kepada Rano. Uang itu diberikan melalui Yadi.

Sementara itu, Ajat Sudrajat mengaku tidak pernah menyampaikan uang dari Dadang langsung kepada Rano Karno. Ajat selalu menyerahkan uang itu kepada Jana Sunawati sebagai Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) dalam pengadaan sarana dan prasarana RS Rujukan Banten untuk diserahkan kepada Yadi.”Memang benar ada permintaan dari Pak Yadi, ajudannya. Kebetulan saya saat itu ada di Bandung,” kata Ajat saat dikonfirmasi dalam sidang.

Menurut Ajat, dia beberapa kali menitipkan uang Rp 50 juta dari Dadang untuk Rano melalui Jana. “(Totalnya) Rp 700 juta lebih,” tegas Ajat.