Kondisi yang memprihatinkan saat ini dirasakan oleh ratusan ribu masyarakat etnis Rohingya yang menempati camp-camp pengungsian di wilayah Cox’s Bazar, Bangladesh. Dengan segala keterbatasan ditengah kondisi cuaca dan medan yang ada, mereka semakin tidak mendapatkan ruang untuk beristirahat yang layak. Sehingga banyak dari mereka sudah tertimpa berbagai penyakit serta kondisi fisik yang terus menurun. Hal ini mendorong beberapa lembaga melalui perwakilan anggota Indonesia Humanitarian Alliance (IHA) menerjunkan tim kemanusiaan yang berasal dari berbagai NGO Indonesia di Bangladesh.

IHA telah menyusun rencana kerja yang terukur, salah satunya berupa meningkatkan fokus bantuan kepada new born baby dan ibu melahirkan yang berada di pengungsian. Dalam kurun waktu enam bulan terakhir, kurang lebih sebanyak 150 bayi lahir dalam kondisi yang memprihatinkan di camp pengungsian setiap bulannya di tenda darurat atau di shelter di pinggiran hutan. Hal ini diyakini akan terus bertambah besar jumlahnya. Termasuk upaya memberikan dukungan ketersediaan air bersih, sanitasi maupun shelter tambahan.

“Melihat krisis kemanusiaan yang menimpa ratusan ribu pengungsi etnis Rohingya, Dompet Dhuafa, selaku salah satu anggota IHA, langsung merespon cepat sesuai dengan prosedur yang berlaku, baik dengan donasi maupun aksi yang dikelola bersama mitra lokal untuk menguatkan program bagi pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar Bangladesh, ” kata drg Imam Rulyawan MARS selaku Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi melalui siaran persnya, Kamis (21/09/2017).

Hingga saat ini, kata drg Imam Rulyawan MARS, tim respon kemanusiaan Dompet Dhuafa telah beraktifitas di Camp Kutabalong, Ukhiya Cox’s Bazar Bangladesh. Di titik tersebut terdapat sedikitnya 400.000 pengungsi Rohingya dalam kondisi dan situasi yang begitu memprihatinkan. Berlanjut Jumat (22/09) Dompet Dhuafa akan memberangkatkan tim kesehatan yang bekerjasama dengan Ikatan Dokter Indonesia ke wilayah pengungsian di Cox’s Bazar.

“Dompet Dhuafa akan terus menggiatkan bantuan kemanusiaan, berupa pemberian bantuan kebutuhan dasar mendesak dalam bentuk makanan, air bersih dan sandang. Untuk jangka menengah, sanitasi dan layanan kesehatan menjadi prioritas. Dengan mendirikan klinik kesehatan serta mobile clinic bagi para pengungsi, khususnya demi menjaga ibu dan anak tetap sehat meskipun dalam kondisi di pengungsian,” paprnya.

drg Imam Rulyawan MARS menambahkan, dalam rencana jangka panjang, Dompet Dhuafa akan mendirikan shelter dan school for refugees (SFR) sebagai tindaklanjut program recovery kepada pengungsi Rohingya dengan bekerjasama mitra di Cox’s Bazar, Bangladesh. (kt/ind)