Indopolitika.com – Mayoritas partai pendukung Susilo Bambang Yudhoyono pada saat pemilu 2009 kini menjatuhkan pilihannya ke pasangan Prabowo-Hatta.  Partai seperti Golkar, PKS, PPP dan PAN sama-sama bergabung ke dalam Koalisi Merah Putih bersama Partai Gerindra. Kenyataan tersebut mendapat perhatian tersendiri dari kalangan pengamat. Tak sedikit yang menilai dukungan itu lebih dikarenakan pertimbangan pragmatis di mana nantinya mereka bisa  mendapat jatah jabatan.

“Minus PKB ya. Demokrat kecenderungannya juga ke Prabowo-Hatta,” kata Pengamat Komunikasi Politik Fathurahman Sidiq di Jakarta, Senin (2/6).

Ia mengatakan, sebagai partai yang pernah merasakan nikmatnya kekuasaan, pertimbangan itu wajar saja didahulukan. Pasalnya, kekuasaan memang terlihat lebih menjanjikan serta menyimpan “candu” kenikmatan yang sulit dihindari. “Saya lihat di sini ada ketakutan, mirip gejala post power syndrome. Pertimbangan ini lebih menonjol daripada alasan ideologis dan lain-lain,” ujarnya.

Ia mencotohkan bagaimana ideologi atau platform partai tak lagi jadi pertimbangan utama. Dulu, ucapnya, kabinet SBY dicap neolib oleh Prabowo. Dan, saat itu Hatta menjadi panglima ekonominya. Namun, imbuhnya, Prabowo malah memilih Hatta sebagai calon wakil presiden. “Juga partai-partai yang bergabung di kabinet SBY nyatanya dukung Prabowo-Hatta. Begini ideologis?,” tegasnya.

Hal serupa juga dikatakan pengamat politik Pusat Kajian Islam dan Pancasila Yudha Firmansyah. Menurutnya, bergabungnya partai pendukung SBY ke Koalisi Merah Putih tidak lain karena menginginkan sejumlah jabatan. “Kalau ke Jokowi kan susah, disebut koalisi tanpa syarat terus. Paling mungkin ya ke Prabowo,” jelasnya.

Secara khusus ia menggarisbawahi dukungan PKS ke Prabowo-Hatta. Ia menilai dukungan itu jauh dari pertimbangan ideologis sebagaimana sering dikoarkan elit PKS selama ini. “Saya gak menemukan alasan ideologis itu. Kalau haus kekuasaan mungkin banyak,” pungkasnya. (Ind)