Pengangkatan Dwi Soetjipto sebagai Dirut PT Pertamina oleh Menteri BUMN menuai banyak kritikan dari berbagai elemen masyarakat. Dwi dianggap tidak memiliki reputasi di dunia perminyakan dan gas, namun hanya bermodalkan keahlian manejerial semata.

“Setali tiga uang dengan pengangkatan beberapa direksi baru Pertamina yang disinyalir merupakan titipan atau orang dekat Ari Soemarno, kakak kandung Menteri BUMN Rini Soemarno memperpanjang mata rantai kecurigaan publik akan mau dibawa kemana Pertamina,” ujar Koordinator Indonesia Energy Watch (IEW), Syarif Rahman Wenno dalam keterangannya kepada indopolitika.com, Rabu (3/12).

Terlepas dari berbagai tudingan dan kontroversi, menurutnya, Dwi harus bisa membuktikan dirinya layak memimpin perusaahan plat merah tersebut. Mengingat pekerjaan rumah yang akan dihadapi Dwi kedepan cukup banyak khususnya pemberantasan mafia minyak dalam internal pertamina.

“Ada beberapa tantangan yang akan dihadapi Dwi Soetjipto. Pertama harus piawai dalam mengorganisir pertamina sehingga menjadi perusahan bertaraf global. Kedua, kemampuan untuk melakukakan koordinasi dan negosiasi dengan parlemen,” ujarnya.

Pertamina mau tidak mau dan suka tidak suka akan selalu terseret dalam masalah politik terkait perencanaan dan realisasi APBN, khususnya tentang keberadaan subsidi BBM.  Pertamina menghadapi dilema serius terkait kepada siapa seharusnya BBM itu diperuntukan, karena banyak penyelundupan terjadi dan target subsidi yang tidak tepat. Padahal sebetulnya ini rana pemerintah.

“Ketiga, pimpinan BUMN dalam banyak kasus sering dijadikan sapi perahan bagi partai politik atau partai berkuasa. Dan ini sering menjadikan hubungan Pertamina dan Pemerintah panas dingin dalam mengekspresikan segala kebijakan Pertamina sebagai sebuah perusahaan bisnis,” tambahnya.

Idealnya pengganti Karen Agustiawan ini setidaknya memiliki kompetensi di bidang energi dan tentu terbiasa menghadapi tekanan politik, apalagi di sektor hulu yang sangat rentan diobrak-abrik oleh berbagai kepentingan politik bisnis.

Seperti diketahui, Pertamina masa kepemimpinan Karen Agustiawan di sektor hulu migas berhasil meningkatkan produksi minyak Pertamina dari 121.000 barel perhari pada 2010 lalu menjadi 224.000 barel perhari 2013. Di sektor hilir Pertamina memperkokoh penguasaan pangsa pasar BBM non subsidi dan pelumas di pasar domestic dan gencarnya ekspansi pasar beberapa produk, seperti aviasi, pelumas dan BBM industri ke luar negeri. Ekspor pelumas produk Pertamina telah berhasil menebus 24 negara dan tetap memperkokoh penguasaan pangsa pasar dalam negeri sebesar 65 persen.

Dari sisi kinerja perusahaan, tahun 2009 ketika dia baru memimpin, pendapatan Pertamina masih sebesar Rp 378,35 triliun. Tahun 2013 sudah naik hampir dua kali lipat menembus angka Rp743,11 triliun. Bahkan laba bersih Pertamina selama era Karen berhasil naik dari Rp 15,8 triliun pada 2009 menjadi Rp 32,05 triliun pada 2013 lalu atau naik 102,89 persen. Capaian-capaian tersebut merupakan progress yang luar biasa ditengah tren penurunan produksi minyak nasional. (ind)