Jakarta – Popularitas dan elektabilitas Cagub DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam sebulan terakhir turun signifikan. Terpuruknya tingkat keterpilihan Ahok terpengaruh atas pemberitaan media yang menyorot kasus-kasus korupsi diduga melibatkan Gubernur DKI ini dan kebijakannya soal penggusuran. Demikian hasil survei yang dilakukan Konsep Indonesia (Konsepindo) pada medio April-Mei 2016.

 

Menurut Direktur Konsepindo Veri Muhlis Ariefuzzaman, dinamika pilihan politik warga DKI Jakarta dipengaruhi cukup signifikan oleh respon publik Jakarta terhadap pemberitaan media yang berkembang selama sebulan terakhir. Isu publik yang dipandang mempengaruhi pilihan politik warga DKI Jakarta adalah Kasus RS. Sumber Waras (57,4%), Reklamasi Teluk (56,8%), Penggusuran Pasar Ikan (55%), Relokasi ke rumah susun  (52,7%), Beda Agama (51,1%), Beda Suku/ras (44,8%), Kasus Korupsi UPS (59,5%) dan Keterlibatan Panama Papers (59,4%).

“Terdapat kecenderungan penurunan signifikan perolehan elektabilitas Basuki Tjahaja Purnama  (51%-39%) dalam sebulan terakhir, berbanding terbalik dengan Yusril Ihza Mahendra, Tri Rismaharini dan Sandiaga S. Uno,” papar Veri saat menjelaskan hasil survei Konsepindo di Hotel Alia Cikini, Selasa (10/5).

Pertimbangan lain yang turut mempengaruhi pilihan politik warga DKI Jakarta adalah dimensi kualitas kandidat yang dipandang memiliki kriteria ideal seorang pemimpin, yaitu bebas korupsi, amanah, tegas, merakyat, adil, santun, layak sebagai gubernur, dan berwibawa. Ekspektasi publik Jakarta yang sangat tinggi dialamatkan kepada figur pimpinan yang bersih dari korupsi, mampu menyelesaikan banjir, macet dan perekonomian  rakyat yang adil dan merata menjadi “harga mati” pilihan politik publik Jakarta.

Dalam survei ini, populasinya adalah seluruh warga negara Indonesia yang sudah berumur 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan di Propinsi DKI Jakarta. Jumlah sampel 620 Responden, margin of error sebesar 4% pada tingkat kepercayaan 95%. Quality control secara random sebesar 20% dari total sampel oleh supervisor dengan kembali mendatangi responden terpilih (spot check). Waktu wawancara lapangan dan spotcheck 24 April – 4 Mei 2016.

Hasilnya adalah untuk pertanyaan Popularitas Kandidat terhadap 22 nama yang ditanyakan kepada responden secara tertutup diperoleh umumnya telah dikenal publik Jakarta di atas 7%-94%, dengan tingkat kesuka-an sebesar 5%-63%.

Untuk elektabilitas calon diperoleh melalui dua kategori pertanyaan, yaitu terbuka (top of mind) dan pertanyaan tertutup (simulasi beberapa calon terpilih). Pada pertanyaan terbuka diperoleh sejumlah 16 nama calon, terdiri secara berurutan Basuki Tjahaja Purnama (27,9%), Yusril Ihza Mahendra (14,35%), Sandiaga Salahudin Uno (2,23%), Adhyaksa Dault (1,29%).

Sementara untuk elektabilitas kandidat menggunakan simulasi 14 nama terdiri secara berurutan Basuki Tjahaja Purnama (38,9%),  Yusril Ihza Mahendra (24,7%), Tri Rismaharini (5,2%), Sandiaga Salahudin Uno (3,39%), Adhyaksa Dault (1,6%).

Terdapat perubahan urutan keterpilihan dari Sandiaga Uno (3 ke 4) dan Risma (dari 7 ke 3), sementara Basuki Tjahaja Purnama dan Yusril Ihza Mahendra tetap pada posisi urutan keterpilihan 1 dan 2. Bedanya pada selisih keterpilihan antara Basuki Tjahaja Purnama dan Yusril Ihza Mahendra dengan Sandiaga Uno dan Risma yang terpaut jauh. Demikian pula dengan simulasi 10 nama diperoleh urutan dan dukungan politik terhadap kandidat yang semakin mengerucut pada empat nama yaitu Basuki Tjahaja Purnama, Yusril Ihza Mahendra, Tri Rismaharini dan Sandiaga Uno.

Penting untuk dicermati jika keempat kandidat tersebut disimulasi dengan pertanyaan khusus menggunakan 5 nama, maka diperoleh urutan yang semakin konsisten bahwasanya Basuki Tjahaja Purnama menempati urutan pertama/unggul (kisaran terendah 37,1% hingga tertinggi 44,8%), Yusril Ihza Mahendra (kisaran terendah 21% hingga tertinggi 25,5%), Tri Rismaharini (kisaran terendah 6,3% hingga tertinggi 13,5%), serta Sandiaga Uno (kisaran terendah 2,3% hingga tertinggi 8,1%).

Jika merujuk hasil riset Populi Center pada awal April 2016 kemarin, kata Veri, maka hasil riset ini menjadi temuan terbaru terkait dinamika perubahan pilihan politik warga DKI Jakarta dalam kurun sebulan terakhir (April-Mei 2016). Bandingkan misalnya pada bulan April 2016 Populi Center merilis elektabilitas top of mind dari Basuki Tjahaja Purnama sebesar 50,8%, sementara bulan Mei 2016 Konsep Indonesia mendapatkan data penurunan signifikan perolehan dukungan elektabilitas pemilih menjadi 27,9% (terbuka) dan 38,9% (simulasi 14 Nama).

“Di antara para kandidat yang paling mendekati peluang bersaing dengan Basuki Tjahaja Purnama adalah Yusril Ihza Mahendra dengan selisih 14-18%, sementara Risma dengan selisih kisaran 22-32%,” kata Veri.