Palembang – Hiruk pikuk pilkada Kota Palembang telah memasuki babak baru yaitu babak persaingan memperebutkan usulan nama bakal
calon dari pengurus partai tingkat kota untuk diajukan ke masing-masing pengurus pusatnya. Dari beberapa informasi yang beredar patut diduga usulan nama-nama di masing-masing partai itu mengerucut pada tiga nama yaitu Sarimuda, Mularis dan Harnojoyo. Ketiga nama itu baik sendiri-sendiri atau bersamaan masuk dalam list nama-nama yang diajukan oleh partai tingkat kota ke pusat.

Bagaimana bisa pada akhirnya nama-nama itu mengerucut menjadi tiga, ketua Forum Pemerhati Pilkada Palembang, Rachmi Fitri Susanti menjelaskan analisanya. Pertama, secara faktual nama-nama itu merupakan tokoh lama yang bersaing di Pilkada sebelumnya. Walau Sarimuda dianggap sudah lemah pamornya karena dipandang tidak lagi memiliki sumber pembiayaan pemenangan yang memadai namun posisinya dalam survei masih yang tertinggi meski kecenderungannya menurun. Hal ini membuat partai tertarik.

Sementara Harnojoyo dianggap telah dan sedang memanfaatkan jabatannya sebagai walikota untuk kepentingan memperpanjang jabatannya sehingga mendominasi area kampanye yang belum waktunya. Ini dipandang potensial oleh partai untuk menjabat lagi. Kemudian Mularis yang dianggap satu-satunya yang siap dana dan tenaga sehingga diperhitungkan bisa menang, namun karena terlalu menonjolkan aspek partainya, yaitu Hanura, sehingga mempersempit ruang gerak kampanyenya. “Tiga nama itu dipandang punya potensi, karenanya diusulkan,” ujar Rachmi pada media.

Rachmi menilai seharusnya peluang besar berada di tangan Sarimuda namun karena dia bukan ketua partai dan posisi keuangannya dianggap tak kuat lagi, maka arah bergeser ke Mularis. Sayangnya Mularis dianggap lebih sering mengkampanyekan partainya dan kemana-mana diringi pasukan kuning kunyit itu, sehingga membuat pendukungnya yang bukan anggota dan simpatisan Hanura menjadi ragu dan menjauh. “Mularis ini mungkin merasa sedang Pileg bukan Pilkada, padahal Pilkada itu bukan hajat partai. Partai hanya dipinjam kendaraannya, yang pokok dalam pilkada adalah figur,” ujar Rachmi.

Rachmi menambahkan dengan lemahnya dua penantang seharusnya peluang petahana kuat, tapi ternyata dari analisa berbagai survei yang sudah dirilis, jauh panggang dari api. Walau Harnojoyo sudah memanfaatkan secara maksimal semua sumber daya yang dimilikinya termasuk jabatannya, namun posisi elektabilitasnya tidak terdongkrak. “Fragmentasi elektabilitas para calon walikota menunjukan jika pemilih di Palembang menunggu hingga detik terakhir,” ujarnya.

Jika ketiga poros ini jadi diusulkan oleh masing-masing partai politik ke pengurus pusatnya maka penentu seru atau tidaknya pertarungan adalah calon wakil-wakilnya. Harnojoyo kembali berpasangan dengan Finda, ini menjadi kartu mati, tak ada hal baru yang bisa ditawarkan kepada pemilih. Kalau publik bosan dan kecewa, pasangan ini hanya bisa pasrah kalah. Sementara teka-teki siapa calon wakilnya Sarimuda masih menjadi perbincangan hangat. Salah pilih wakil, bisa membuat Sarimuda menjadi pecundang sejati, kalah terus selamanya. Sementar Mularis yang diisukan menggandeng Lury Elza Alex belum tampak semarak. Sepertinya masih ada persoalan diantara mereka. Tidak terlihat dukungan serius dari keluarga Alex Noerdin pada pasangan ini. “Publik tahu kalau Gubernur Alex turun, tidak akan setengah-setangah. Tampaknya dengan Mularis ini, Lury cuma jadi pengukur suhu,” tutupnya. (Fied)