Direktur Pusat Studi Sosial dan Politik Indonesia, Ubedilah Badrun menyatakan kubu yang menginginkan Musyawarah Nasional Partai Golkar tandingan merupakan pertanda tidak percaya diri melawan Aburizal Bakrie di Munas IX PG di Bali yang rencananya akan digelar 30 November sampai 3 Desember 2014.

Menurut dia, kalau mereka percaya diri, harusnya berani bertarung menghadapi pria yang karib disapa Ical di Munas Bali. dengan  yang fair. “Yang fair saja di Munas Bali. Itu forumnya, bukan dengan Munas tandingan,” ujar Ubedillah, Minggu (30/11).

Dia menyatakan, jika diperhatikan kubu yang tak setuju dengan Ical adalah yang tidak memiliki dukungan internal yang kuat. Seperti Agung Laksono dan Priyo Budi Santoso yang tak memiliki basis massa pendukung.

Agung pada pileg 2009 lalu maju sebagai caleg namun gagal. Hal sama dialami Priyo Budi pada pileg 2104.  “Mereka gagal nyaleg,” kata Ubedillah.

Selain itu, lanjut Ubedillah, kubu Presidium Penyelamat Partai Golkar penuh dengan intervensi eksternal Golkar. Kehadiran mereka membuktikan pengaruh luar Golkar yang ingin mengobrak-abrik partai berlambang beringin ini. “Bisa jadi mereka dari KIH,” imbuh Ubed.

Baik Agung maupun Priyo, secara kekuatan finansial dilihatnya tidak kuat menghadapi Ical. Struktur politik Golkar juga tidak mereka pegang. Jadi sangat tidak mungkin bagi mereka untuk memegang tampuk kekuasaan kepemimpinan di Golkar.

Keduanya, menurut Ubed, hanya ingin mendapatkan peran politik baru, karena sudah tidak lagi terpakai dalam dinamika perpolitikan saat ini. Pada pemerintahan SBY lalu, Agung adalah Menkokesra. Kini dia tidak lagi menjadi menteri. Tidak juga menjadi anggota DPR. Sedangkan Priyo Budi, pernah menjadi pimpinan DPR. Sekarang dia tidak memegang posisi apapun, karena kemarin pada pileg, gagal meraih kursi dari dapilnya di Jawa Timur. (jp/ind)