Jakarta – Kabar bahwa calon gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dilaporkan ke KPK karena tuduhan korupsi dalam keikutsertaan Indonesia di acara Frankfurt Book Fair dua tahun lalu, membuat wartawan senior dan budayawan Goenawan Mohamad ikut angkat bicara.

“Saya adalah Ketua Komite Nasional untuk acara besar selama 2014-2015 di Frankfurt, Leipzig, Bologna dan London itu. Maka jika ada yang perlu dilaporkan ke KPK, itu adalah saya, bukan Anies Baswedan. Bukan karena saya mau pasang badan buat Anies, yang bukan pilihan saya untuk pilkada kali ini. Tapi karena tak adil bagi dia,” kata Goenawan, dalam sebuah pesan di Whatsapp yang beredar di kalangan wartawan sore ini.

Frankfurt Book Fair merupakan pameran buku tertua dan terbesar di dunia yang diselenggarakan di Kota Frankfurt, Jerman. Pertengahan Oktober 2015, selama hampir sepekan, Indonesia didaulat sebagai “tamu kehormatan” dalam pameran tersebut.

Sejumlah penulis, pengarang, dan wartawan Tanah Air ikut diberangkatkan ke Frankfurt, saat itu. Anggaran untuk keikutsertaan Indonesia di pameran itu mencapai Rp 146 miliar, dan dana itulah yang dituding dikorupsi oleh Anies, sewaktu menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan, dan dilaporkan oleh sebuah LSM ke KPK kemarin.

“Hari-hari ini, saya dengar ada orang yang melaporkan Anies Baswedan ke KPK dengan tuduhan korupsi ketika Indonesia hadir sebagai ‘negeri kehormatan’ di Frankfurt International Book Fair,” kata Goenawan di awal penjelasannya.

Dia menjelaskan, keputusan Indonesia bersedia diminta jadi “negeri kehormatan” ditandatangani bukan oleh Anies Baswedan, melainkan oleh menteri sebelumnya, Moh. Nuh. Juga besarnya anggaran disiapkan dan diajukan di masa Moh. Nuh.

“Anies melanjutkan agenda ini, dan saya senang bekerja bersama dia: saya memimpin team profesional, dia aparat Kementerian.”

Menurut Goenawan, hasilnya bisa dilihat dari kesaksian dan liputan media terkemuka Jerman. “Bahwa sampai ada orang melapor hal ini, tanpa menelaah kejadiannya lebih dulu, membuat saya sedih dengan pilkada ini.”

Di bagian lain, dia menyatakan,  siasat fitnah dan kabar bohong yang dulu diarahkan ke capres Jokowi kini ditujukan ke Anies — dan sebelumnya ke Ahok, yang karena fitnah harus diproses di pengadilan. Bahkan hari ini Ahok difitnah ikut terima suap dalam kasus e-KTP.

“Saya sedih dengan pilkada ini. Begitu banyak kebencian dilontarkan, tak mau tahu bahwa ini hanya cara memilih orang yang kita kontrak untuk mengurus kota selama paling lama lima tahun.”

“Jika fitnah dan kebencian diteruskan, apa lagi dengan mengobarkan sentimen agama dan etnis, sehabis ini kehidupan politik macam apa yang akan menyertai kita? Luka hati. Perpanjangan saling curiga. Dan kepercayaan yang rusak berat kepada proses demokrasi. “