Bandung – Keputusan DPP Golkar mengusung Ridwan Kamil sebagai calon gubernur Jawa Barat terbukti mendapat reaksi keras dari banyak pihak termasuk dari para kadernya sendiri. Mereka menganggap didepaknya ketua DPD Golkar Jawa Barat sebagai bakal calon gubernur adalah tindakan harakiri politik yang keterlaluan. Hal mana dianggap akan meruntuhkan dominasi Golkar, padahal Jawa Barat merupakan lumbung suara Golkar nasional dan dalam pilpres yang lalu kekalahan Jokowi di provinsi ini terbilang cukup telak, semua itu diakui sebagai salah satu kontribusi Golkar Jabar yang solid.

Pengamat politik dari LSPI Jabar, Fadlullah Mujani menyatakan keputusan politik yang kontroversial akan selalu ada risikonya. Risiko politik Golkar yang paling besar adalah ditinggalkan para pendukungnya di Jawa Barat. Ia menjelaskan bahwa Golkar adalah partai massa, itu artinya keanggotaannya beda dengan partai kader. Para pendukung, simpatisan dan kelompok kepentingan yang sama akan hengkang ketika keputusan politik yang diambil berbeda dengan kemauan mereka apalagi sampai melukai hati mereka. “Dedi Mulyadi itu bukan tokoh ecek-ecek, masa ditinggal begitu saja, saat mana dia sudah bekerja melakukan sosialisasi dan hasilnya cukup bagus. Kita bisa baca di media massa, survei Indo Barometer kemarin jelas mengkonfirmasi kalau gerakan Dedi Mulyadi itu hasilnya positif, elektabilitasnya naik menyalip Dedi Mizwar,” ujarnya saat paparan dalam diskusi politik “Siapa Bisa Kalahkan RK”’ yang digelar di Bandung hari ini, (6/11).

Fadlullah Mujani juga menjelaskan, tidak serta merta orang yang elektabilitasnya tinggi akan menang. Ada soal strategi, taktik, manajemen pemenangan dan jaringan, belum lagi soal isu negatif yang melekat pada kandidat. Adalah nyata terjadi dimana calon yang dominan dan diyakini akan menang justru tumbang, itu bisa dilihat di Pilkada Banten tahun lalu. “Jelas sekali Rano Karno amat dominan dan dalam survei tidak pernah kalah, tetapi dia bisa tumbang seperti Ahok yang jiga dominan di Pilkada DKI, keduanya tumbang kalah perang dan pulang dengan impian melayang. Semua karena dalam politik, hitungan di atas kertas bisa berubah cepat di lapangan tergantung situasi dan kondisinya,” pungkasnya.

Terkait siapa figur yang bisa mengalahkan Ridwan Kamil, peneliti LSPI Pusat Rachmayanti Kusumaningtyas memaparkan, perlunya bersatu dua Dedi. Jika Dedi Mulyadi dan Dedi Mizwar bersatu maka peluang untuk mengalahkan Ridwan Kamil cukup tinggi. Kedua figur itu menurut Rachmayanti memiliki kelebihan yakni simbol kesundaan dan urang lembur (orang kampung) ada pada Dedi Mulyadi sementara figur agamis ada pada Dedi Mizwar itu karena peran dan iklan yang selama ini beredar di masyarakat. “Soal siapa di posisi apa bergantung pada partai politik yang menggodognya. Jika merujuk pada survei Indo Barometer yang dirilis kemarin, Dedi Mulyadi ada di posisi kedua dan Dedi Mizwar ketiga. Kita akan keluarkan data kita sebentar lagi, sekarang sedang turun ke lapangan tim surveinya,” ujarnya.

Diskusi tersebut juga menyimpulkan pentingnya terbentuk poros baru untuk melawan dominasi Nasdem-Golkar di pihak Ridwan Kamil. Disarankan agar PDI Perjuangan Jabar dapat berkoalisi dengan partai yang ada seperti Demokrat, PKS dan bahkan Gerindra. Partai-partai itu dapat bersatu dan mencomot dua tokoh yang elektabilitaanya ada di posisi dua dan tiga kemudian digabungkan. Dengan demikian Pilkada Jabar 2018 akan berlangsung dinamis dan semarak. (Fied)