Di Sulawesi Tenggara (Sultra), pertumbuhan ekonomi pada tahun 2016 tumbuh sebesar 6,51%. Pertumbuhan yang cukup tinggi yang ditopang oleh tiga sektor unggulan, yaitu pertanian, kehutanan, dan perikanan yang memberikan kontribusi 24,3% dan diikuti oleh sektor pertambangan dengan kontribusi 19,35% dan sektor konstruksi dengan kontribusi 14,02%.

Hal ini diungkapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat memberikan pengantar awal pada Rapat Terbatas (Ratas) di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (10/4).

Momentum pertumbuhan di sektor pertanian, kehutanan, dan kelautan, lanjut Presiden, harus terus dijaga agar bisa tumbuh dan berkelanjutan juga tumbuh secara berkualitas.

“Untuk itu perlu dikembangkan lagi komoditas unggulan di sektor pertanian dan perkebunan. Dan di Sulawesi Tenggara seperti komoditas kakao di Kabupaten Kolaka Timur. Dan saya minta APBN/ APBD untuk sektor pertanian agar diarahkan untuk pengembangan hortikultura, bukan hanya padi saja,” tutur Presiden Jokowi.

Presiden juga meminta dipercepat pembangunan infrastruktur pendukung sektor pertanian, seperti pembangunan Bendungan Ladongi, Bendungan Pelosika, serta pembangunan infrastruktur irigasinya. Ia juga mengingatkan agar pembangunan infrastruktur irigasi harus sesuai dengan pengadaan sawah. Jangan sampai saluran irigasi dibangun tapi sawahnya tidak ada atau sebaliknya.

“Dan agar pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, dan kelautan maupun pengembangan sektor pertambangan bisa memberikan nilai tambah yang lebih tinggi bagi Sulawesi Tenggara, maka perlu ditopang industri pengolahan,” tambah Presiden seraya menyampaikan meski industri pengolahan baru berikan kontribusi 6,1 persen, tapi sektor tersebut akan makin meningkat secara perlahan.

Untuk itu, Presiden memerintahkan perlu langkah-langkah terobosan dengan pengembangan kawasan-kawasan industri, seperti kawasan industri Konawe yang dirancang terintegrasi dan bisa terhubung dengan pelabuhan.

Selain ketiga sektor tersebut, Presiden menganalisis bahwa Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki sektor yang sangat potensial yaitu sektor pariwisata, terutama yang berbasis potensi wisata bahari. Ia menyebutkan keindahan alam laut di Wakatobi bisa dikembangkan menjadi sebuah magnet yang sangat kuat untuk menarik kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara.

“Jika potensi wisata bahari tersebut bisa dioptimalkan, terutama dengan mempercepat pengembangan Wakatobi sebagai kawasan strategis pariwisata nasional, memperlancar akses transportasi, dan konektivitas serta pembangunan infrastruktur pendukung, akselerasi pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Tenggara saya yakin akan semakin cepat,” pungkas Presiden di akhir pengantar Ratas.

Turut mendampingi Presiden dalam Rapat Terbatas tersebut, Menko Polhukam Wiranto, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menko Kemaritiman Luhut B Pandjaitan, Seskab Pramono Anung, Mensesneg Pratikno, KSP Teten Masduki, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, Menteri BUMN Rini Soemarno, Mendagri Tjahjo Kumolo, Menperin Airlangga Hartarto, Mendag Enggartiasto Lukita, Menteri PUPR Basuki Hadimoeljono, Menteri ESDM Ignasius Jonan, Menhub Budi Karya Sumadi, Menkes Nila Moeloek, Menristek Dikti M Nasir, Menteri ATR/Kepala BPN Sofyan Djalil, Mendikbud Muhadjir Effendy, Kepala BKPM Thomas Lembong, Kepala BPKP Ardan Adiperdana, Gubernur Sultra Nur Alam.(rls/ind)