Indopolitika.com – Pernyataan-pernyataan Amien Rais dalam memberikan dukungan kepada Prabowo menunjukkan adanya sisi lain dirinya yang selama ini kurang dikenal publik.

Sebagaimana diberitakan, saat menghadiri acara Isra Mi’raj di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Ahad lalu, Amien Rais menganalogikan pemilihan presiden seperti Perang Badar. Amien lantas mengajak hadirin memilih Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

“Amien Rais memang punya kecenderungan sektarian. Itu adalah posisi politik Amien sebelum tiba-tiba melejit jadi tokoh reformasi,” kata Pengamat Politik dari Jarinusa Research and Consulting, di Jakarta, Sabtu, (31/5).

Penggunaan istilah Perang Badar merupakan upaya Amien Rais menembakan satu peluru untuk dua sasaran sekaligus. “Ini bahasa politik yang disampaikannya kepada kelompok pemilih tertentu,” ujar Deni.

Deni menyatakan, sasaran pertama serangan Amien pastilah Jokowi-Kalla secara langsung. Dalam hal ini Amien hendak memberi label mereka sebagai ‘musuh Islam’ yang harus dihabisi secara frontal dan kalau perlu menggunakan kekerasan.

Sasaran kedua, lanjut dia, istilah ini ditujukan kepada para pendukung Jokowi-Kalla, terutama kalangan nahdliyin. NU di mata Amien adalah organisasi yang terlalu lentur keislamannya dan terkesan lebih membela kelompok minoritas. “Bukan tidak sengaja ketika beberapa waktu lalu Amien menyebut NU menyimpang jika tetap dukung Jokowi-Kalla,” urai Deni  lagi.

Sementara itu, Mantan Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar NU, Salahuddin Wahid, juga mengkritik Amien Rais yang menyebut kontestasi pada pemilihan presiden seperti perang Badar. “Itu tidak tepat. Pilpres bukan Perang Badar,” kata pemimpin Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur itu.

Menurut Gus kiyai yang biasa disapa Gus Sholah, Perang Badar merupakan perang yang melibatkan kontak fisik. Sedangkan pemilihan presiden sama sekali tak berkaitan dengan kegiatan fisik. Pilpres, kata dia, merupakan adu gagasan para calon presiden dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

Senada dengan Gus Sholah, Tokoh muda Nahdhatul Ulama (NU), Syafiq Ali, menyesalkan pernyataan Perang Badar yang disampaikan Amien Rais. Syafiq mengatakan pernyataan itu merusak rasa persatuan dan kesatuan bangsa.  “Pemilu Presiden bukan medan pertarungan untuk meniadakan lawan. Pemilu Presiden merupakan ajang untuk mencari pemimpin terbaik untuk masa depan,” kata aktivis mahasiswa 1998 itu.

Syafiq menambahkan pernyataan dari Amin mengesankan calon yang tidak didukung Amien Rais yaitu Joko Widodo dan Jusuf Kalla adalah musuh umat Islam sehingga bisa menimbulkan sentimen SARA atau keagamaan.  “Padahal, Jokowi merupakan muslim tradisional dan Jusuf Kalla merupakan Ketua Dewan Masjid serta mustasyar NU,” tegasnya. (Ind)