Momentum Idul Fitri 1435 H adalah saat yang tepat untuk rekonsiliasi dan mengesampingkan seluruh perbedaan dan ketegangan yang muncul selama pemilihan legislatif maupun pemilihan presiden.

“Dengan semangat Idul Fitri, kita perkuat silaturrahim sesama anak bangsa. Kita berharap dalam momen seperti ini yang menang tidak jumawa dan tetap merangkul, yang kalah, yang kalah juga bisa legowo dan menghormati yang menang,” kata anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Hanif Dhakiri di Jakarta, Kamis, (31/7).

Ia menambahkan, demokrasi itu indah manakala kita tahu kapan kita harus merangkul yang kalah dan memulai rekonsiliasi. Demokrasi juga indah manakala kita tahu kapan harus berhenti saat sudah kalah dan menghormati yang menang.

“Semoga momen Idul Fitri ini bisa menyatukan pikiran dan batin elit-elit bangsa untuk mengokohkan tali persaudaraan di tengah dinamika politik nasional,” ujar Wasekjen PKB itu.

Tahun 2014 memang tahun politik karena momen-momen politik penting seperti pileg dan pilpres berlangsung pada tahun ini. Sehingga, sambungnya, kehidupan kebangsaan menjadi lebih dinamis dari tahun-tahun sebelumnya.

“Kontestasi dan ketegangan politik jadi sering muncul di masyarakat dan terlebih-lebih di kalangan elit. Namun begitu, perbedaan maupun iklim kontestasi tak boleh merusak sendi-sendi persatuan dan harmoni bangsa. Perbedaan harus ditundukkan oleh semangat kebersamaan agar Indonesia jadi bangsa yang kuat,” ujar Hanif. (ant)