Palembang – Tanggal 12 November diperingati sebagai Hari Kesehatan Nasional (HKN). Perayaan ini pertama kali dilakukan oleh Presiden Soekarno pada 1959. Kala itu, ia melakukan penyemprotan nyamuk malaria secara simbolis sekaligus dilakukan gerakan penyuluhan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat akan bahanya penyakit malaria dan mengingatkan untuk lebih waspada. Selanjutnya setiap tanggal ini, Hari Kesehatan Nasional terus diperingati dengan tujuan untuk meningkatkan pemahanan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan. Pada tahun 2017 ini, HKN ke-53 diperingati dengan tema “Sehat Keluargaku Sehat Indonesiaku”.

Menyambut Hari Kesehatan ini calon gubernur Herman Deru menyatakan pentingnya kesadaran dan peran keluarga sebagai sentral kehidupan. Keluarga yang harmonis, sehat dan sejahtera akan menjadi pilar bangsa. Karenanya Deru sepakat dengan tema HKN kali kali ini dimana keluarga menjadi perhatian semua pihak. Keluarga sehat, tentu dalam pengertian keluarga-keluarga seluruhnya di Indonesia, semua akan sehat. Deru menganggap, kalau hanya satu dua keluarga tertentu yang sehat sementara lainnya sakit atau tidak sehat, ya Indonesia sehat tidak akan tercapai. Karena itu program keluarga sehat harus jadi perhatian semua. “Tidak hanya dalam kontek membangun kesadaran saja agar mereka menjaga kesehatannya tetapi akses mereka, para keluarga itu, kepada layanan kesehatan yang gratis, terjangkau, terjamin menjadi urgent,” ujarnya saat melepas kepergian para relawan ke daerah masing-masing seusai memghadiri pernikahan puterinya dan konsolidasi jaringan, di kediamannya di Taman Kenten. Palembang, 12/11.

Herman Deru yang akan ikut serta dalam Pilkada Sumsel 2018 meyakinkan publik bahwa dirinya akan menghidupkan kembali program berobat gratis. Jaminan kesehatan yang ada harus bisa menjamin semua rakyat Sumsel bisa mengakses layanan kesehatan yang baik. Jangan karena gratis justru pelayanannya buruk, prosedurnya ribet dan perawatannya buruk. “Harus ada perhatian untuk kaum papa, di Sumsel ini tidak boleh ada yang Sadikin, artinya sakit sedikit miskin. Gara-gara berobat semua harta habis,” ulasnya.

Deru kembali menekankan pentingnya mengentaskan kemiskinan, membangun keluarga sejahtera. Kemiskinan di Sumsel masih tinggi, di atas 13 persen, bagaimana keluarga bisa membangun kesehatan yang baik jika miskin. Budaya hidup sehat berkait juga dengan fasilitas hidup sehari-hari. “Orang kalau miskin, orientasi kesehatan jadi nomor ke sekian. Tapi kalau sejahtera akan berbeda. Karenanya pengentasan kemiskinan dan layanan kesehatan gratis bagi kaum papa wajib jadi prioritas. “Mending bangun sanitasi, mck sehat, dapur sehat, lingkungan permukiman sehat daripada bangun kereta bawah tanah dan sejenisnya. Ini soal preferensi,” tandasnya. (Fied)