Palembang – Hari ini 17 Oktober diperingati sebagai Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia. Peringatan ini diakui Perserikatan Bangsa Bangsa pada tahun 1992. Pertama kalinya peringatan ini digelar di Paris pada tahun 1987. Saat itu, 100 ribu orang berkumpul di Human Rights and Liberties Plaza di Trocadero untuk memberi penghormatan kepada para korban kelaparan, kemiskinan, kekerasan, dan ancaman. Mereka menyatakan kemiskinan adalah kekerasan terhadap hak asasi manusia. Sehingga mereka menuntut agar masyarakat di seluruh dunia menghormati hak asasi itu.

Setiap tanggal 17 Oktober, masyarakat dunia memperingati Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia (The International Day for the Eradication of Poverty). Peringatan ini ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada tahun 1992. Mereka mengumumkan solidaritasnya kepada orang-orang di seluruh dunia yang aktif memerangi kemiskinan dan mereka optimis bahwa kemiskinan dan kesengsaraan di dunia dapat diakhiri. Berdasar pasal 25 Deklarasi Universal HAM, setiap orang berhak atas taraf kehidupan yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya sendiri dan keluarganya, termasuk hak atas pangan, sandang, papan, dan pelayanan kesehatan, pelayanan sosial yang diperlukan, serta hak atas keamanan pada saat menganggur, sakit, cacat, ditinggalkan oleh pasangannya, usia lanjut, atau keadaan-keadaan lain yang mengakibatkan merosotnya taraf kehidupan yang terjadi diluar kekuasaannya.

Diminta tanggapannya mengenai peringatan hari pengentasan kemiskinan ini, calon gubernur Herman Deru mengharapkan adanya meningkatkan wawasan mengenai kebutuhan untuk memberantas kemiskinan di mana saja di dunia, juga di Sumsel. Deru mengutip data BPS yang menyatakan Sumatera Selatan (Sumsel) termasuk salah satu provinsi dengan jumlah penduduk miskin tertinggi di pulau Sumatera. “Cek datanya di laman BPS, jumlah penduduk miskin di Sumsel per-Maret 2017 berada di urutan keempat dari 10 provinsi di Sumatera. Urutan pertama persentase penduduk miskin ditempati oleh Provinsi Aceh sebesar 16,89, Bengkulu sebanyak 16,45 persen, Lampung sebesar 13,69 persen dan keempat Sumsel. Persentase penduduk miskin berada di angka 13,19 persen dari total jumlah penduduk sebanyak 8,16 juta,” ujarnya.

Calon gubernur yang akan berpasangan dengan mantan Bupati OI Mawardi Yahya ini menyatakan sudah sepatutnya semua pihak punya kepedulian dan keberpihakan pada para keluarga miskin. Kemiskinan kultural maupun kemiskinan struktural harus berantas, wajib dientaskan dan ditekan semaksimal mungkin. Deru menjelaskan program pemberdayaan masyarakat dapat menjadi solusi untuk menyelesaikan masalah kemiskinan dalam jangka panjang. “Mata rantai kemiskinan harus diputus dengan melakukan terobosan khususnya terkait anak-anak keluarga miskin. Mereka harus diberi akses ke bidang pendidikan dan pelayanan kesehatan sehingga dapat keluar dari kemiskinan di masa mendatang. Itu stressing kita, prinsipnya angka kemiskinan harus diturunkan, angka 13 persen lebih itu ketinggian, ini PR kami jika terpilih nanti, mohon do’a dan dukungannya,” pungkasnya. (AJ)