Indopolitika.com Hary Tanoesoedibdjo saat awal masuk Partai Hanura, membuat pamor partai pimpinan Wiranto ini menjadi perbincangan publik. Hanura tiba-tiba tenar.

Iklan Hanura, hingga pemberitaan hampir tidak pernah terputus. Apalagi, Hary Tanoe adalah bos MNC Group, yang membawahi beberapa media besar seperti RCTI, MNC Tv, Sindo Radio dan koran Sindo, beberapa media online, dan banyak lagi jaringan medianya.

Tapi sayang, setelah pemilu legislatif resmi diumumkan KPU, sosok Hary Tanoe seolah tersingkirkan. Mulai dari desakan agar Hary Tanoe dipecat, dilengserkan, hingga diminta keluar dari Hanura. Karena Hanura hanya berkisaran 5% lebih, dan Hary Tanoe dianggap tidak bisa mengangkat suara partai.

Sampai akhirnya, Hanura melalui Ketua Umum Wiranto dan sejumlah elit lainnya, pada Sabtu (17/5/2014), mendatangi kediaman Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dan menyatakan resmi mendukung Jokowi sebagai capres 2014. Dalam deklarasi beberapa hari berselang, Hary Tanoe bahkan tidak ada.

“Saya tak dapat membayangkan gimana Hanura tanpa Hary Tanoe. Apa mungkin masih lolos PT (parliamentary threshold)? Atau senasib dengan PBB?,” kata pengamat politik Indrawan SH, Jakarta, Rabu (21/5/2014).

Dia menilai, memang kuat kesan kalau Hanura ‘membuang’ Hary Tanoe. Ibaratnya, habis manis sepah dibuang.

Bagi dia, salah satu jasa Hary Tanoe adalah totalitasnya dalam mendukung Hanura. Baik dari segi pendanaan, sosialisasi media sampai mobilisasi dukungan.

“Dia juga turun ke lapangan bersama Wiranto. Baru kali ini sosialisasi politik Hanura semarak. Iklan di TV tiap hari ada,” jelas dia.

Seharusnya, lanjut Indrawan, Hary Tanoe mendapat penghargaan dari Hanura. Setidaknya ada rasa terima kasih, tidak meninggalkan begitu saja, seolah tidak pernah ada apa-apa.

Menurut dia, partai bisa mengkompromikan perbedaan dalam pandangan politik, apalagi ada perbedaan karena Hary Tanoe lebih condong mendukung Prabowo-Hatta.

“Yang dominan selama ini kan Wiranto. Hary Tanoe bahkan tidak terlihat di setiap komunikasi dengan parpol lain,” tuturnya.

Dia tidak yakin Hary Tanoe mundur karena mendua, berbeda dengan kebijakan partai. Tapi yang lebih besar, mundurnya Hary Tanoe diyakininya karena pengambilan keputusan internal partai yang tidak demokratis.

“Kalau mendua, tidak mungkin menampakkan diri di pihak Prabowo. Saya pikir ini ilmu sederhana. Bilang saja habis manis sepah dibuang,” tandas Indrawan.

Hary Tanoe yang di Hanura menjabat sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu, diketahui menghadiri rapat kubu Prabowo Subianto di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Minggu (18/5/2014) lalu.

Pada deklarasi Prabowo-Hatta di Rumah Polonia, Jakarta Timur, Senin (19/5/2014), Hary Tanoe diketahui juga turut hadir. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra mengatakan bos MNC Group itu datang.

Wiranto sendiri sudah mengakui kalau Hary Tanoe sudah mengajukan pengunduran diri dari Hanura. (Ind)