Indopolitika.com   Laboratorium Psikologi Politik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Bandung, Ikatan Psikologi Klinis Indonesia, dan Ikatan Psikologi Sosial Indonesia, Kamis (3/7), merilis hasil survei aspek kepribadian calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) 2014.

Survei yang dilakukan pada 18-27 Juni dengan responden 204 psikolog menilai pidato, rekaman wawancara, catatan biografi, dan peristiwa penting dalam hidup capres-cawapres.

Dari survei tersebut diketahui Hatta merupakan anak kedua dari 12 bersaudara, merupakan anak laki-laki pertama di dalam keluarga, sehingga sering diberi tanggung jawab yang lebih oleh orangtuanya. Misalnya, Hatta selalu ditugaskan untuk mengambil beras jatah dari kantor tempat ayahnya bekerja, yang beratnya bisa mencapai puluhan kilogram.

Kedekatan Hatta dengan ibunya sangat tinggi. Ketika kecil ibunya selalu menceritakan dongeng-dongeng yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan. Misalnya, tentang keberanian dan kesetiakawanan. Walaupun sangat dekat dengan ibunya, akan Hatta merupakan pribadi mandiri, pekerja keras, dan ulet.

Berdasarkan analisis yang dilakukan, Hatta dianggap memiliki kemampuan berpikir yang cenderung tinggi. Hatta cukup mampu mengeluarkan ide yang cemerlang dan menerapkannya menjadi sebuah kebijakan yang nyata. Keinginan untuk berprestasinya juga cukup tinggi, sehingga apa yang dicita-citakannya dapat dicapai.

Hatta memiliki gaya kepemimpinan yang cenderung demokratis. Dalam mengambil keputusan, Hatta cenderung lebih mau mendengar pendapat orang lain, tetapi lebih kepada orang-orang terdekatnya saja. Gaya pengambilan keputusan tersebut juga dapat berpengaruh terhadap pekerjaannya. Misalnya ketika menjadi pemimpin kelak, jika terjadi krisis diplomatik, maka Hatta akan berusaha kompromi supaya tidak memutuskan hubungan kedua belah pihak.

Hatta merupakan sosok yang cukup hangat dalam berinteraksi dengan orang lain. Di dalam keluarganya, Hatta selalu berusaha untuk menjalin kedekatan dengan anak-anak dan istrinya. Gaya kepemimpinan demokratis juga tampak pada dirinya. Misalnya, ketika Hatta akan terjun ke dunia politik dan mencalonkan diri menjadi presiden, dia mengumpulkan istri dan anak-anaknya untuk dimintai pendapat.

Beberapa prediksi kondisi psikologis dari Hatta yang dapat dipotret adalah dinilai sebagai pribadi yang tenang, cerdas, dan hati-hati, namun dianggap oportunis dan ambisius, sehingga diprediksi dalam mengambil kebijakan akan cenderung kompromis. Hal ini diprediksi akan berpengaruh pada kebijakan pemberantasan korupsi, misalnya yang melibatkan partai pendukung. Hatta juga dianggap rentan mengalami skandal politik. (sp/ind)