Palembang – Pilkada Sumsel 2018 telah memasuki fase krusial, saat mana para kandidat dan partai politik tengah melakukan negosiasi untuk proses pengusungan. Hal demikian terjadi karena partai politik harus menimbang dengan siapa berpasangan, bagaimana peluang menangnya dan dengan partai apa berkoalisi. Saat yang sama partai politik juga dihadapkan pada kepentingan menjaga ideologi dan misi partai, jangan sampai salah memilih teman koalisi, kesalahan dalam hal itu bisa mengakibatkan kekalahan dansangat mungkin berimplikasi terhadap pemilu 2019. Terkait koalisi ini, tampak benar ke permukaan, partai-partai kubu pro perubahan mulai bersatu melawan kubu status quo. Demikian kesimpulan yang dipetik dari diskusi terbuka bertema: “Pilkada Sumsel: Pertarungan Kubu Perubahan vs Kubu Status Quo,” yang digelar di Palembang, (27/10).

Diskusi ini menghadirkan Agusta Surya Buana dari Forum Pemerhati Pilkada Sumsel dan Muchtar S Shihab dari Lembaga Survei Politik Indonesia. Dalam paparannya Agusta menjelaskan tentang kemungkinan terjadi hanya dua kubu dalam pilkada Sumsel 2018 ini, kubu itu adalah kubu penantang yang akan mengusung teman perubahan dan kubu petahana yang akan mengusung tema kelanjutan status quo. “Dapat dipastikan kubu status quo akan mempertahankan kekuasaan dengan segala teknik. Ini sudah diprediksi jauh hari dari cara mengusung calon. Gubernur Alex Noerdin tak mau kekuasaan lepas ke tangan orang lain bahkan ke tangan wakilnya sekalipun. Ia memilih puteranya untuk meneruskan,” ujarnya.

Sementara itu Muchtar Shihab dalam paparannya menjelaskan peluang penantang untuk memenangkan kontestasi lebih besar dari petahana. Berdasar survei terkini yang dilakukan lembaganya ditemui adanya keinginan untuk menghadirkan gubernur baru ketimbang diteruskan pemerintahan oleh putera gubernur. “Ada keengganan publik untuk menerima putera gubernur sebagai penerus pemerintahan. Mereka menyadari bahwa era kerajaan telah hilang, bahkan kasarnya mereka lebih baik dipimpin tiga periode jika dibolehkan daripada kepemimpinan diteruskan oleh puteranya. Keberatan terhadap dinasti pilitik cukup tinggi di Sumsel,” ujarnya. (Feed)