Sumsel, indopolitika.com — Bakal calon gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menanggapi santai reaksi keras yang ditunjukkan Gubernur Alex Noerdin menanggapi uraiannya soal Indeks Pembangunan Manusia. Deru menyatakan tak ada maksud menjelek-jelekan Pak Gubernur atau Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Demikian kesimpulan tanggapan Deru saat ditemui media di sela keberangkatannya menuju Singapura, Kamis, (17/11/2016) kemarin.

Deru menjelaskan, data yang ia ungkapkan bukan data yang dibuat atau dikarangnya, melainkan data BPS yang sudah dipublikasi dan bisa diakases di internet.

“Semua itu kan sifatnya masukan, bahan kita merenung. Bahan kita untuk mengevaluasi. Saya ini kan mau mencalonkan diri di Pilkada Sumsel 2018, tentu harus punya rencana kerja, visi misi, salah satu bahan untuk menyusun itu perlu data. Data ya dicari di internet, beli buku terbitan BPS dan dari berbagai sumber resmi lain. Kita mencarai data capaian pembangunan Sumsel, mana yang bagus, mana yang kurang. Itu normal dan biasa saja, jangan ditanggapi berlebihanlah,” ujarnya santai.

Deru menyatakan semua pihak harus rileks dan berpikir positif.

“Jangan cepat emosi, nanti stress,” tegasnya.

Deru menjelaskan, orang Sumsel harus sejahtera dan bahagia. Kesejahteraan dan kebahagiaan ada alat ukurnya. Ia sendiri kaget dengan posisi Sumsel yang berada di urutan ke 26 pada pencapaian Indeks Kebahagiaan.

Deru mengungkapkan data indeks kebahagiaan yang dipublikasi BPS tahun 2014, Sumsel meraih nilai 67,76 pada skala 0 – 100, berada di urutan ke 26 dari 34 Provinsi secara nasional. Sementara se-Sumatera berada di urutan ke-6 dari 10 provinsi di Sumatera.

“Ternyata provinsi Kepulauan Riau itu indeks kebahagiaannya paling tinggi,” ujar mengangumi.

Deru menutup pernyataannya dengan sedikit menyesalkan posisi indeks kebahagiaan Sumsel yang berada dibawah rata-rata nasional.

“Posisi Sumsel berada di bawah indeks kebahagiaan nasional, selisih 0,52%, Indeks kebahagiaan nasional sebesar 68,28, ini memunculkan pertanyaan apa iya kita di Sumsel kurang bahagia?” pungkasnya.

Menurut Wikipedia,  Indeks Kebahagiaan atau yang dikenal juga dengan Index of Happiness adalah salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur kesejahteraan masyarakat berdasarkan tingkat kebahagiaan masyarakat.

Indeks Kebahagiaan Indonesia tahun 2014 sebesar 68,28 pada skala 0–100. Indeks kebahagiaan merupakan rata-rata dari angka indeks yang dimiliki oleh setiap individu di Indonesia pada tahun 2014. Semakin tinggi nilai indeks menunjukkan tingkat kehidupan yang semakin bahagia, demikian pula sebaliknya, semakin rendah nilai indeks maka penduduk semakin tidak bahagia. Indeks kebahagiaan merupakan indeks komposit yang disusun oleh tingkat kepuasan terhadap 10 aspek kehidupan yang esensial. Kesepuluh aspek tersebut secara substansi dan bersama-sama merefleksikan tingkat kebahagiaan yang meliputi kepuasan terhadap: 1) kesehatan, 2) pendidikan, 3) pekerjaan, 4) pendapatan rumah tangga, 5) keharmonisan keluarga, 6) ketersediaan waktu luang, 7) hubungan sosial, 8) kondisi rumah dan aset, 9) keadaan lingkungan, dan 10) kondisi keamanan. (Fen)