Palembang – Masalah Ease of Doing Business di Sumsel telah menjadi perhatian serius calon gubernur Herman Deru. Ia menyesalkan peringkat Sumsel yang berada di bawah rata-rata nasional tingkat kemudahan berbisnis yang dikeluarkan Asia Competitiveness Institute (ACI)—pusat penelitian di Lee Kuan Yew School of Public Policy (LKYSPP), National University of Singapore (NUS). Sumsel bahkan menempati peringkat ke 8 paling rendah dari 33 provinsi di Indonesia. Kondisi demikian tentu bukan gilang gemilang tetapi memalukan. Karenanya Herman Deru mengajak semua pihak bersatu untuk mengurus daerah ini dengan benar. Demikian tanggapan calon gubernur yang diusung PAN, Nasdem dan Hanura ini kepada media saat dimintai pendapat soal indeks kemudahan berbisnis di Sumsel, Kamis, 28 Desember 2017 di Palembang.

Bupati OKU Timur dua periode ini menyatakan pemerintah provinsi dan kabupaten kota tak boleh tinggal diam, harus ada upaya strategis untuk memberikan kemudahan berbisnis (ease of doing business/EODB). Salah satunya dengan mengeluarkan sejumlah kebijakan ekonomi. Reformasi regulasi dan kontrol ketat implementasinya. Kemudahan perizinan, kecepatan pelayanan dan keadilan perlakuan. “Tidak boleh ada itu pungutan liar, sogokan, suap dan sejenisnya. Titipan, katebelece dan backing (beking-bekingan, red),” ujarnya.

Deru yang juga berpengalaman sebagai pengusaha ini menjelaskan, para investor tidak hanya memerhatikan persoalan regulasi tetapi juga mempertimbangkan kondisi infrastruktur, SDM, potensi pasar dan efektivitas biaya. Bobot reformasi regulasi mungkin hanya menyumbang 20 persen dari skor indeks kemudahan berbisnis itu. “Yang tak kalah penting adalah sisi daya tarik bagi investor (attractiveness to investor) dan keramahan bisnis (business friendliness), pangsa pasar domestik, produktivitas tenaga kerja, dan ketersediaan infrastruktur transportasi logistik,” tambahnya.

Deru menutup pernyataanya dengan menekankan pentingnya pemerintah daerah menjaga ketahanan energi, perlindungan UMKM, percepatan pembangunan listrik, e-commerce. “Jadi bisnis kekinian harus didukung infrastruktur kekinian. Internet cepat dan murah harus jadi perhatian juga. Ini penting bagi kita,” pungkasnya. (Fied)