Hitung Cepat Puskaptis, JSI, IRC, dan LSN Dinilai Menyesatkan

"Persepi harus rekomendasikan ke penegak hukum dengan indikasi kebohongan publik. Itu sudah unsur pidana. Jadi jangan cuma dikeluarkan dan sanksi sosial saja," kata Ketua Cipayung Alumni & Network (CAN) Arip Musthop


Indopolitika.com Hasil hitung cepat suara pemilu presiden (pilpres) 2014 yang dirilis oleh Puskaptis, Jaringan Survei Indonesia (JSI), Indonesia Research Center (IRC) dan Lembaga Survei Nasional (LSN) dinilai menyesatkan. Hasil hitung cepat yang dikeluarkan oleh sejumlah lembaga survei tersebut juga dianggap telah memicu suasana politik sosial menjadi tidak kondusif.

Perhimpunan Survey Opini Publik Indonesia (Persepi) pun diminta mengambil sanksi tegas dengan memecat Puskaptis dari keanggotaan di Persepsi. Bukan cuma itu, Persepsi juga didesak untuk memperkarakan Puskaptis ke lembaga penegak hukum.

“Persepi harus rekomendasikan ke penegak hukum dengan indikasi kebohongan publik. Itu sudah unsur pidana. Jadi jangan cuma dikeluarkan dan sanksi sosial saja,” kata Ketua Cipayung Alumni & Network (CAN) Arip Musthopa dalam keterangan persnya di Jakarta, Jumat (11/7).

Menurut Arip, stasiun televisi telah sengaja menyebar informasi yang tidak kredibel untuk memenangkan kandidat tertentu dengan menyiarkan hasil quick count dari lembaga survei yang disebutnya. Karena itu, kelompok Alumni Cipayung meminta agar Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Dewan Pers untuk memberikan sanksi tegas pada media-media televisi yang menyiarkan.

Alumni Cipayung juga mendesak KPU dan Bawaslu untuk peka dan responsif pada setiap pengaduan kecurangan. Pasalnya, angka yang dirilis oleh lembaga survei kredibel melalui hitung cepatnya sudah tak terbantahkan lagi.

“Kepada TNI dan Polri kami juga tetap meminta untuk menjaga netralitas dan profesionalitasnya dalam mengawa proses perhitungan suara pilpres sehingga suasana damai dan kondusif tetap terjaga,” papar Ketua Umum PB HMI 2008-2010 ini.

Lebih lanjut, Arip meminta agar simpatisan Jokowi-JK tetap waspada dan terus mengawal proses perhitungan hingga real count KPU 22 Juli mendatang. Ia juga menyerukan agar kubu capres yang kalah bisa legowo dan menerima kekalahan.

“Kita juga minta agar semua pendukung Prabowo-Hatta rela menerima kekalahan ini. Agar suasana konflik yang tak diinginkan tidak perlu terjadi,” tandasnya. (jp/ind)

Next post Hasil Quick Count Membuat Bingung Masyarakat di Palangkaraya

Previous post Terkait Kasus Romi Herton, KPK Periksa Ketua DPRD Palembang

Related Posts