Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars (ICIS) KH Hasyim Muzadi menjajaki kerja sama dengan Australia terkait deradikalisasi dan pemberantasan terorisme.

Direktur Kerjasama ICIS Khariri Makmun dalam keterangannya menyebutkan bahwa kunjungan Hasyim Muzadi ke Australia dalam rangka melakukan second track diplomacy untuk penguatan hubungan people to people antara Indonesia dan Australia.

Di Negeri Kanguru, Hasyim antara lain bertemu dengan Senator George Brandis QC yang juga menjabat sebagai Jaksa Agung dan Menteri Seni Australia di kantor parlemen di Canberra, Kamis (11/12).

“Pertemuan kedua tokoh ini sebagai upaya untuk membahas kemungkinan kerja sama di bidang pemberantasan terorisme antara Indonesia dan Australia,” kata Khariri.

Sebagaimana Indonesia, kata dia, Australia juga menghadapi gelombang radikalisasi yang cukup besar. Hal itu terlihat dari banyaknya warga Austrlia yang bergabung dengan ISIS di Syiria dan Irak.

Dari perbincangan di parlemen Australia, baik Hasyim maupun George Brandis sepakat untuk menindaklanjuti pertemuan lanjutan dan sekaligus melakukan kerja sama dalam upaya deradikalisasi dan pemberantasan terorisme.

“Indonesia memerlukan program yang utuh untuk mengatasi radikalisasi. Sebab, selama ini upaya yang dilakukan oleh sejumlah instansi tidak cukup karena belum adanya aksi bersama dan koordinasi,” kata Hasyim seperti dikutip Khariri.

Selain itu, Indonesia juga belum memiliki undang-undang yang bersifat preventif sebagaimana National Security Act (NSA), sehingga aparat keamanan hanya dibolehkan untuk menangkap seorang teroris setelah aksi terorisme terjadi.

“Ini merupakan kelemahan, karena aparat selalu kalah satu langkah dengan pelaku teror,” kata Hasyim.

Selain bertemu dengan tokoh dan pejabat tinggi Australia, Hasyim juga melakukan pertemuan bisnis dengan Macquarie Bank dan Equity Bank Hiscock.

Dalam lawatannya ke Australia, Hasyim didampingi Direktur Kerjasama ICIS Khariri Makmun dan Direktur Pengembangan Koperasi Pesantren Alhikam. (ant)