Tim sukses (Timses) pasangan Airin Rachmi Diany-Benyamin Davnie menilai, pasangan Ikhsan Modjo-Arsid tidak siap menang dan kalah karena meminta mendiskualifikasi Airin-Benyamin setelah unggul sementara sebagai calon walikota Tangsel versi hitung cepat (quick cout).

“Proses rekapitulasi KPU saja belum selesai. Mereka sudah menyatakan akan menggugat ke MK, dan meminta calon kami didiskualifikasi dan diadakan pemilihan ulang. Ini kan aneh,” kata Veri Muhlis Arifuzzaman, salah seorang anggota Timses Airin-Benyamin, di Jakarta, Jumat (11/12).

Menurutn dia, seharusnya semua pasangan calon (Paslon) menaati mekanisme dan mengikuti proses yang sedang berlangsung di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Adapun menggugat ke Mahkamah Konstitusi (MK) ada waktunya tersendiri sesuai tahapan proses di KPU.

“Saya pikir ini soal mental saja. Ada upaya menolak hasil Pilkada dengan menggiring opini publik sebelum hasil resmi KPU diumumkan,” tegasnya.

Veri menilai, sikap demikian sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang tokoh yang berjiwa kesatria. Sikap itu justru hanya menunjukkan rasa frustasi dan kepanikan luar biasa dalam menghadapi kenyataan. “Nyatanya kan kalah telak versi quick count,” ungkapnya.

Akibat tak siap menerima kekalahan, kata Veri, muncullah tuduhan kecurangan yang disebut-sebut terstruktur, sistematis, dan masif. Padahal dalam konteks Pilkada, tuduhan itu sangat serius, sehingga perlu dibuktikan terlebih dahulu di persidangan sebelum diucapkan ke publik.

“Apalagi diucapkan di tengah penghitungan KPU masih berlangsung. Apa namanya kalau bukan karena stress dan frustrasi?” tanya Veri.

Meski begitu, diakuinya, kubu Airin-Benyamin sama sekali tak keberatan jika Ikhsan dan Arsid nanti mengajukan gugatan ke MK. Selain karena memang hak mereka, kubu Airin-Ben meyakini kemenangannya didapatkan secara demokratis, bersih, dan terhormat.

“Sekarang kita ikuti dulu prosesnya sesuai mekanisme yang ada. Kita tetap jaga suasana kondusif dengan tidak melakukan provokasi publik,” katanya.