Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mendukung pemberantasan narkoba yang telah menjalar di berbagai wilayah Indonesia. Bentuk dukungan yang diberikan berupa dukungan terhadap berbagai program Badan Narkotika Nasional (BNN), peningkatan anggaran, hingga diplomasi antar negara.

Demikian dikatakan oleh Ketua DPR Setya Novanto, saat bincang Coffee Morning membahas Solusi Nasional dengan tema ‘Indonesia Darurat Narkoba’ di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (31/3/2017).

Acara itu juga dihadiri oleh Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso, Ketua Banggar Azis Syamsuddin, Wakil Ketua Komisi X Ferdiansyah, dan Anggota Komisi III Adies Kadir. Acara ini di moderatori oleh Anggota DPR periode 2009-2014, Dedi ‘Miing’ Gumelar. Selain itu hadir pula perwakilan artis seperti Ivan Slank dan Jenny Cortez.

“Peredaran narkoba ini telah menyentuh lapisan atas, khusunya public figure. Bahkan nak-anak dan ribuan orang saat sekarang terkena narkoba. Kita dukung apa yang harus dilakukan BNN. Dengan adanya dukungan dari Pemerintah dengan persetujuan DPR, diharapkan memberikan arti besar dalam pemberantasan narkoba,” jelas Novanto.

Menanggapi adanya keterbatasan anggaran yang dimiliki BNN, Novanto memastikan pihaknya akan mendukung peningkatan anggaran BNN. “Terkait anggaran, kami harapkan Ketua BNN dapat menjelaskan kepada Presiden terkait keterbatasan anggaran. Kami prioritaskan anggaran kepada BNN,” imbuh Novanto.

Politisi F-PG itu menjelaskan, pihaknya mendapatkan laporan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), dari peredaran narkoba yang telah diungkap BNN, dengan penyitaan aset mencapai Rp 263 miliar, berasal dari 21 kasus dari 30 tersangka.

Untuk pemberantasan narkoba yang melibatkan beberapa negara, Novanto memastikan DPR yang telah menjalin kerjasama dengan parlemen negara sahabat, dapat memberikan fasilitas dukungan kepada BNN dalam memberantas narkoba.

“Kita juga harapkan kerjasama antara BNN, Polri, Bea Cukai dalam menyisir peredaran narkoba,” harap politisi asal dapil Nusa Tenggara Timur itu.

Sementara itu, Miing, panggilan akrab Dedi mengatakan ada tiga hal memang yang sedang mengancam sendi keutuhan NKRI sekarang ini. Pertama adalah korupsi. Kedua, terorisme, dan yang terakhir adalah narkoba.

Mantan Anggota Dewan itu menjelaskan, ibarat sebuah pohon, korupsi mencegah buah-buah bertumbuh, terorisme menebang batangnya. Akan tetapi, narkoba bak rayap yang menggerogoti akarnya sehingga tak bisa bertumbuh jadi batang dan daun yang rimbun apalagi berbuah.

Sementara itu, Kepala BNN Budi Waseso mengatakan, ada 11 negara yang mendistribusikan narkoba ke Indonesia. Ke-11 negara itu memasok narkoba lewat dua negara transit, yaitu Malaysia dan Singapura.

“Ada 11 negara yang menyuplai ke negara kita. Semua muara akhirnya di Indonesia mereka melalui 2 negara subtransit yaitu Malaysia dan Singapura,” jelas Budi.

Budi pun mengeluhkan mengenai masalah koordinasi dengan dua negara untuk memutus peredaran narkoba ini. Menurutnya, kendalanya adalah masalah dasar hukum di Malaysia dan Singapura yang menyatakan jaringan pemasok narkotika ke Indonesia tidak bisa ditindak selama tidak melakukan kejahatan di negara tersebut.

“Sampai hari ini saya tidak bisa bekerjasama dengan 2 negara itu dalam mengungkap jaringan besarnya yang secara pembuktian ada di Malaysia dan Singapura,” kata Budi.

Dari dua negara tersebut, narkoba ini masuk lewat pulua dan pelabuhan tikus. Budi pun mengakui pengawasan untuk masalah ini masih lemah. “Secara geografis kita lemah. Karena banyak pulau dan banyak pelabuhan tikus. Mereka masuk dari berbagai penjuru. Evaluasi kita, menggambarkan narkotika peredarannya seperti ini,” imbuh Budi.

Budi mengakui, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Indonesia sebagian besar menjadi pusat kendali peredaran narkoba. Lapas telah dijadikan pusat kendali peredaran gelap narkoba. Sejauh ini, BNN berhasil mengungkap 72 jaringan, sebagian besar dikendalikan narapidana dari dalam lapas.

“Ancamannya luar biasa, masa depan generasi muda jadi taruhan. BNN berharap tanggung jawab ini tidak hanya dibebankan ke pundak instanstinya dan aparat penegak hukum seperti TNI, Polri dan Kejaksaan. Melainkan bisa seluruh kalangan bahu membahu memberantas peredaran narkoba di Indonesia,” harap Budi, sembari mengatakan pihaknya sedang merintis Pusat Rehabilitasi Nasional.

Masih dalam kesempatan yang sama, Ivan Slank dan Jenny Cortez sempat menyampaikan pengalamannya ketika menjadi penyalahguna narkoba. Namun keduanya bertekad untuk keluar dari jerat hitam dunia narkoba, dan berusaha memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bahaya narkoba. (pr/ind)