Sesuai prediksi yang dilakukan oleh Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro, Insya Allah ekonomi Indonesia akan menempati 4 besar dunia.

“Saya percaya hitung-hitungan itu, karena yang menghitung sudah jago-jago ekonomi. Siapa yang meragukan Bu Sri Mulyani, siapa yang meragukan Pak Darmin Nasution, ini kelas internasional semuanya. Jadi yang menghitung bukan saya,” kata Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada pembukaan Rapat Kerja Nasional XVI Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dan Peluncuran HIPMI Go to School, di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Senin (27/3) pagi.

Berdasarkan prediksi para pakar itu, menurut Presiden, pada 2045 jumlah penduduk Indonesia kurang lebih 309 juta, pertumbuhan ekonomi 5-6 persen, PDB (Produk Domestik Bruto) mencapai 9,1 dollar AS USD (kurang lebih Rp120 ribu triliun, sekarang baru Rp13 ribu triliun), income per kapita mencapai 29 ribu dollar AS (sekarang 3.500-an dollar AS).

“Ini sebuah loncatan yang sangat besar. Tapi siapa yang nanti akan pegang peranan di sini? HIPMI. Ingat kata-kata saya. Terjadi atau tidak terjadi. Insha Allah terjadi,” tegas Jokowi.

Presiden menjelaskan, ada tiga tahapan besar yang ingin dilakukan pemerintah dan bangsa Indonesia. Yang pertama, sebagai pondasi, kita akan bangun infrastruktur, ini sangat penting sekali. Pada tahapan yang kedua, akan kita bangun industri pengolahan yang berbasis kepada bahan-bahan mentah yang kita punyai. Yang ketiga, baru kita masuk ke industri jasa.

Tahapan 10 tahun pertama pembangunan infrastruktur. Ini betul-betul harus fokus dan harus diselesaikan, karena dengan inilah kita akan bisa memperkuat daya saing (competitiveness) kita. Biaya logistik, biaya transportasi, akan jatuh lebih murah, sehingga nantinya harga-harga juga bisa bersaing dengan produk-produk dari luar,” terang Presiden.

Sementara masuk 10 tahun berikutnya adalah industri pengolahan. Presiden mengingatkan, jangan kita sekali-kali pada tahapan 10 tahun yang kedua, jangan sekali-kali masih ada kita yang berjualan bahan mentah (raw material).

“Setop! Harus sudah tidak ada lagi, semuanya harus barang minimal setengah jadi yang syukur kalau kita bisa push, agar kita mengekspor itu dalam bentuk barang jadi semuanya. Kelapa sawit, jangan sampai nanti kita ngirimnya CPO terus. Setop,” tegas Presiden.

Kemudian di 10 tahun yang ketiga, lanjut Presiden, kita harus bisa masuk besar-besaran kepada industri jasa. Tapi meskipun masih 30 tahun lagi, Presiden mengingatkan, sekarang pun tetap harus dimulai.

Presiden menuturkan, industri pengolahan dimulai, industri jasanya juga harus dimulai, tapi besar-besaran pada tahun-tahun yang disebutkannya tadi. Ia mengingatkan, kekuatan Indonesia adalah di industri pariwisata.

“Masuklah anak-anak muda ke industri ini, karena industri ini akan menjanjikan. Yang kedua yang berkaitan dengan life style, ini akan berkembang di negara kita. Yang berkaitan dengan retail, media, kuliner, online store ini akan berkembang pesat sekali. Dan ini anak-anak muda yang bisa,” tutur Presiden seraya menambahkan, sudah sulit untuk generasi seumur dirinya masuk ke dunia tersebut. Tapi anak-anak muda yang bisa menguasai ini.

Presiden mengingatkan, agar di setiap segmen tadi, setiap 10 tahun, jangan melupakan pembangunan SDM (Sumber Daya Manusia), karena nanti akan ada bonus demografi di tahun 2030-2035, di mana 52 persen penduduk kita berada pada usia yang sangat produktif.

“Kalau pembangunan SDM ini bisa kita kerjakan, itu akan menjadi sebuah kekuatan besar kita. Tapi kalau kita gagal, akan menjadi sebuah beban negara yang sangat besar,” tutur Presiden Jokowi seraya mengingatkan, siapapun nanti pemimpinnya, yang namanya pembangunan SDM menjadi kunci dalam rangka menghantarkan kita kepada Indonesia Emas di 2045. (rls/ind)