Guruh Sukarnoputra, putra Presiden pertama RI Ir. Sukarno, mengungkapkan beberapa koreksi atau pelurusan terkait pemahaman masyarakat yang dianggapnya keliru tentang mendiang ayahandanya yang sering dijuluki “Sang Proklamator” itu.

“Yang pertama terkait tempat lahir Bung Karno. Di buku-buku pelajaran sekolah dan ensiklopedia masih saja menyebutkan tempat lahir Bung Karno di Blitar, padahal sebenarnya di Surabaya,” ujarnya lantang saat berpidato dalam acara Penerbitan Buku “Di Bawah Bendera Revolusi (Jilid II)” di Gedung Pola, Jakarta, Sabtu.

Dalam acara yang sekaligus digelar untuk merayakan 114 tahun kelahiran Ir. Sukarno itu, Guruh juga menjelaskan tentang cara menuliskan nama Sukarno yang benar.

“Yang benar adalah Sukarno, dengan u, bukan Soekarno,” tuturnya.

Pernyataan tersebut didukung dengan bukti langsung ucapan Bung Karno yang dimuat dalam halaman 32 buku autobiografinya yang ditulis oleh Cindy Adams.

Guruh kemudian membacakan kutipan pernyataan Bung Karno dalam buku berjudul “Sukarno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” itu.

“Waktu di sekolah tanda tanganku dieja Soekarno, sesuai ejaan Belanda. Setelah Indonesia merdeka, aku memerintahkan agar semua oe diterjemahkan kembali menjadi u. Nama Soekarno menjadi Sukarno. Tetapi tidak mudah mengubah tanda tangan setelah berumur 50 tahun, jadi dalam hal tanda tangan aku masih menulis Soe,” tuturnya.

Selanjutnya yang tidak kalah penting, menurut Guruh, adalah kepanjangan dari kata “Jasmerah” yang merupakan judul pidato kenegaraan Sukarno pada tanggal 17 Agustus 1966.

“Jasmerah itu sering disebut-sebut pemerintahan zaman Orde Baru (Orba) supaya konotasinya Bung Karno identik dengan PKI. Padahal Jasmerah itu kan artinya jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah, tapi orang banyak keliru mengartikannya jadi jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Melupakan dan meninggalkan itu beda jauh,” ujar pemilik nama lengkap Muhammad Guruh Irianto Sukarnoputra itu.

Catatan selanjutnya adalah tentang beberapa pihak yang menyebutkan pemerintahan Sukarno adalah zaman Orde Lama. Dengan keras dan tegas, putra bungsu Sukarno dari pernikahannya dengan Fatmawati itu membantah pengertian tersebut.

“Kalau menyebut Bung Karno Orde Lama itu suatu penghinaan. Bung Karno sendiri anti Orde Lama karena Orde Lama adalah keadaan pada saat manusia Indonesia masih dengan mental dijajah atau zaman kolonialisme. Kalau mau bilang ya sebut saja pemerintahan masa Bung Karno, bukan pemerintahan masa Orla,” katanya.

Berbagai pemahaman yang keliru tentang Sukarno tersebut, menurut Guruh, dikarenakan praktik politik kaum neokolonialisme dan imperialisme (nekolim) pada masa Orba yang dengan sengaja mematikan atau mengubur dalam-dalam segala fakta tentang Sukarno dan keluarganya, bahkan juga ajaran-ajaran nasionalisme yang digagasnya.

Bahkan wasiat Bung Karno untuk minta dimakamkan di daerah Priangan, Jawa Barat pun tidak pernah terlaksana karena mantan Presiden Soeharto yang merupakan tokoh utama pemerintahan Orba, memerintahkan agar Bung Karno dimakamkan di Blitar, Jawa Timur.

“Bung Karno dalam wasiatnya sering bilang, kalau saya meninggal nanti saya ingin dimakamkan di Priangan dimana banyak pegunungan dan sungai mengalir. Saya cukup dikuburkan di sebuah pohon rindang. Makam saya tidak usah diapa-apakan, tidak usah diberi nisan dan tulisan macam-macam. Cukup batu sederhana dengan tulisan Sukarno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia,” kenang Guruh.

Ia pun menyesalkan bahwa perlakuan bangsa Indonesia terhadap Sukarno hingga detik ini masih tidak pada tempatnya. Dia mengklaim bahwa nama besar ayahnya kerapkali hanya dijadikan bahan untuk “jualan” atau sebagai etalase para pemilik kepentingan entah itu pribadi maupun golongan.

“Orang menyatakan diri sebagai pencinta Bung Karno tapi hanya layaknya mencintai selebriti. Mereka hanya mengagumi sosoknya, tapi tidak ada yang belajar pemikiran Sukarno. Jangankan pemikiran, riwayat (hidupnya) saja banyak yang tidak tahu,” kata pria berumur 62 tahun itu.

Guruh juga prihatin mengetahui banyak generasi muda yang beranggapan bahwa nama Sukarno selalu identik dengan Hatta, seakan mereka berdua adalah orang yang sama, jadi seperti “Sukarno bin Hatta”.

“Menjelang tahun 1985 ketika mau peresmian bandara internasional Cengkareng diberilah nama bandara itu Sokarno-Hatta. Jalan-jalan juga begitu. Seolah-olah Sukarno tidak ada apa-apanya tanpa Hatta, begitu pun sebaliknya. Padahal mereka adalah dua pribadi berbeda yang sama-sama kuat berjuang dengan pemikiran dan gagasan cemerlang hingga mengantarkan bangsa ini menuju kemerdekaan,” ujarnya.

Selain Guruh, dalam acara yang diadakan oleh Yayasan Bung Karno itu hadir pula Menteri PPN/Bappenas Andrinof Chaniago, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Ketua Umum PNI Sukmawati Sukarnoputri, dan salah satu putra Sukarno dari pernikahannya dengan Hartini, Bayu Sukarnoputra. (ant)