Indopolitika.com   Istana Kepresidenan diminta proaktif mendorong penyelidikan hukum untuk membuktikan tidak ada keterlibatan dalam melakukan kampanye hitam terhadap capres Joko Widodo (Jokowi) melalui Tabloid Obor Rakyat, yang pemimpin redaksinya adalah “orang dalam” Istana.

“Saya katakan bahwa Istana harus menegaskan, menyatakan, secara proaktif mendorong upaya-upaya penyelidikan hukum sebagai bukti tidak terlibat sama sekali dalam masalah ini,” kata juru bicara tim pemenangan capres dan cawapres, Joko Widodo-Jusuf Kalla, Ferry Mursyidan Baldan, di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, adalah fakta bahwa Pemred Tabloid Obor Rakyat Setyardi Budiono merupakan asisten Staf Khusus Presiden, Velix Wanggai. Ferry menekankan pihak Istana Kepresidenan tidak boleh diam, apalagi pasif dalam menyikapi masalah itu.

Masyarakat juga resah karena menimbulkan spekulasi bahwa ada “orang dalam” Istana yang menjadi otak dari beredarnya Tabloid Obor Rakyat.

“Kalau kemudian ada dari pihak Istana yang malah membela, dan di kepolisian penanganannya melemah, maka akan ada kesimpulan bahwa ini ciri-ciri ada yang bermain. Bahwa ini didesain secara bagus oleh orang yang memiliki kekuasaan,” ujar Ferry.

Sementara bagi Tim Jokowi-JK sendiri, sejauh ini menilai ada kejanggalan dari pengadaan serta peredaran Tabloid Obor Rakyat yang begitu masif. Anehnya, kata Ferry, hal itu diklaim sebagai upaya dan pendanaan pribadi dari seorang asisten staf khusus.

“Kita saja yang orang partai suka kesulitan dalam hal pengadaan spanduk dan bagaimana pengirimannya. Tapi ini ratusan ribu eksemplar, dan dibagikan di pelosok daerah, yang tentu biayanya tidak sedikit. Pasti ada yang mendanai. Istana harus aktif mengungkap ini. Kalau membiarkan proses ini, apalagi sampai membela, kita bisa simpulkan keterlibatan orang yang dekat Istana itu by design,” kata politisi Partai NasDem ini.

Ferry juga berharap kepada Polri untuk serius dalam mengusut kasus ini karena korbannya tidak hanya Jokowi. Bagi Tim Jokowi-JK, peredaran Tabloid Obor Rakyat telah mengorbankan kebhinnekaan dan keragaman masyarakat bangsa Indonesia.

“Penuntasan kasus Tabloid Obor Rakyat ini akan menjadi ujian netralitas Polri,” katanya.

Seperti diketahui, Tabloid Obor Rakyat sudah menjadi bahan pembicaraan beberapa minggu terakhir karena berisi kampanye hitam dan fitnah terhadap calon presiden Joko Widodo (Jokowi).

Di Edisi I, Tabloid Obor Rakyat menuding Jokowi dengan isu SARA dan tudingan korupsi yang dilakukan oleh Jokowi. Beberapa hari lalu, Tabloid Obor Rakyat edisi II kembali beredar. Berita utama yang diangkat dalam Tabloid Obor edisi II adalah “1.001 Topeng Pencitraan”. Pemberitaan tabloid tidak satu pun yang memberitakan pasangan calon presiden-wakil presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Tabloid yang dicetak dan disebarluaskan secara gratis itu dikirim melalui jasa Kantor Pos Pusat di Bandung dan diedarkan ke sejumlah pondok pesantren, masjid, dan tokoh masyarakat di Jatim, Jateng dan Jabar. (ind/ant)