Indonesia dikenal luas sebagai negara agraris, negara yang berlatar belakang pertanian. Akan tetapi, saat ini Indonesia belum berdaulat pangan. Tentu saja pemerintah harus serius menyelesaikan permasalahan ini.

“Ini mengerikan sekali jika negara agraris tetapi tak berdaulat pangan. Negara kaya melimpah dengan potensi pertanian lemah ketahanaan pangannya,” ujar Ketua Umum Masyarakat Perbenihan dan Pembibitan Indonesia (MPPI), M. Jafar Hafsah di sela-sela acara Seminar Nasional “Membangun Sistem & Program Strategis untuk Kedaulatan Pangan Indonesia” di Gedung Bulog, Jakarta, Senin, (29/12).

Menurut M. Jafar Hafsah, seharusnya Indonesia sudah mampu berdaulat pangan. Politisi Partai Demokrat itu menjelaskan, saat ini Indonesia justru menjadi pengimpor berbagai komoditas pangan yang semakin besar dari tahun ketahun.

“Kedaulatan pangan sudah seharusnya terlaksana sejak lama, bukan materi buat didiskusikan tetapi sesuatu yang harus dijalankan,” kata Jafar Hafsah.

Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) Bayu Krisnamurthi mengingatkan agar pemerintah meningkatkan pertumbuhan beras hingga empat persen. Tujuannya agar target pemerintah memproduksi beras dalam negeri mencapai dua juta ton per tahun bisa terwujud.

“Dalam 20 tahun terakhir pertumbuhan produksi beras hanya mencapai dua persen,” kata dia.

Sedangkan, lanjut dia, pertumbuhan permintaan akan beras berkualitas selalu meningkat. Hal itulah yang membuat pertumbuhan beras belum bisa maksimal hingga saat ini.

Dikatakannya, untuk mencapai ketahanan pangan tidak hanya harus berfokus pada produksi saja. Aspek lain yang mesti diperhatikan yakni distribusi yang meliputi sistem pengiriman dan perdagangan. Kemudian yang terpenting menurutnya adalah konsumsi.

Pemerintah, lanjut dia, mesti memperhatikan permintaan konsumen yang terus meningkat di tengah pesatnya perekonomian di daerah dan kawasan kota sekunder. Contohnya di Banyuwangi, Jember atau Cilacap di mana banyak tumbuh restoran dan hotel yang meminta beras berkualitas.

Guna menggapai swasembada, kata dia, petani perlu disediakan benih unggul yang terjamin di samping penting mengoptimalisasi lahan kering. Selain itu, perlu dilakukan program apresiasi varietas beras karena beda antara beras cianjur, kepala, pandan wangi atau rojolele. Perlu diapresiasi pula beras kualitas premium, medium hingga organik.

Bagi para pelaku usaha dan BUMN, investasi di bidang pertanian penting dilakukan bahkan menguntungkan. Di antaranya investasi di bidang benih unggul, investasi food estate, investasi pascapanen, angkutan, logistik, distribusi, penyimpanan, pengemasan, merek dan label. (ind)