Menanggapi hasil survei data indeks Stop-Start dari Castrol Magnatec yang menyatakan bahwa Jakarta menjadi kota yang paling macet sedunia, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama mengakui hal tersebut benar adanya.

“Memang iya. Kalau kamu tidak punya sistem transportasi berbasis rel pasti macet. Jepang saja yang punya masih macet apalagi kita, makanya kita lagi bangun (transportasi basis rel),” ujar Basuki di Balai Kota, Rabu (4/2).

Basuki mengatakan, persoalan kemacetan Jakarta merupakan pekerjaan rumah yang selama 30-40 tahun tak kunjung dirampungkan. Namun pihaknya terus berupaya dan bertahan untuk tetap membangun Jakarta.

“Ini PR 30-40 tahun. Kita harus tahan saja, belum lagi yang ngeyel. Untung saya tensi masih bagus, kalau tidak stroke saya,” katanya.

Dari survei tersebut dihasilkan, Jakarta berada di peringkat pertama dalam hal kemacetan. Per tahunnya, jumlah stop-start di Jakarta mencapai 33.240 kali. Jumlah ini paling banyak dibandingkan jumlah stop-start 77 negara lain.

Selain Jakarta, kota lain di Indonesia yang juga masuk dalam daftar kota termacet di dunia, yaitu Surabaya. (bs/ind)