Jakarta – Semaraknya suasana dan nuansa menjelang perhelatan pilkada Kota Palembang 2018 mendapat tanggapan positif dari pengamat politik Veri Muhlis Arifuzzaman. Direktur Konsepindo Research & Consulting ini menyatakan daerah yang ramai dan bergeliat jelang pemilihan kepala daerah berarti mendapat perhatian dari rakyatnya. Demikian disampaikannya saat bincang santai dengan para wartawan di Guns Caffe, Palembang tadi malam, (12/8).

Veri yang didaulat wartawan untuk menganalisis ramainya suasana pilkada Kota Palembang ini menjelaskan, bahwa atensi publik khususnya warga kota, yang adalah pemilih, menjadi penting agar tansaksi politik antara mereka dengan yang kandidat jadi jelas bentuknya. “Para kandidat menawarkan program apa? Cocok tidak dengan kebutuhan warga? Jika cocok maka mereka akan memilihnya,” ujarnya.

Pengamat politik yang merupakan alumni East West Center, Honolulu, Hawaii, USA ini menambahkan, ketika warga kota membincangkan program, mengujinya, mengkritiknya dan bahkan membantahnya akan membuat semua pihak khususnya stakeholders kota sadar dan melek politik. “Dukungan pada kandidat tidak lagi berdasar pada apa yang diberikan baik barang atau uang, ini yang disebut vote buying dan dilarang, tetapi justru pada kebutuhan warga yang nyata. Program kerja dan solusi atas permasalahan akan menjadi pertimbangan pemilih dalam memutuskan kandidat yang pas untuk memimpin ke depan,” ujarnya.

Saat ditanya soal dominasi alat peraga milik petahana yang memenuhi ruang publik khususnya di properti milik negara seperti kantor pemerintah, sekolah dan fasilitas umum lainnya, Veri menjelaskan itu sebagai tindakan kurang elok dan menunjukan ketidakpercayaan diri. Menurutnya terlalu banyak alat kampanye dan mendominasi semua sektor malah akan membuat publik bosan, tidak suka dan eneg. “Sesuatu kalau berlebihan akan tidak baik, seperti orang makan kebanyakan, bisa muntah,” ujarnya.

Mantan konsultan politik Alek Noerdin pada Pilgub Sumsel 2013 ini menjelaskan, era memasang atribut kampanye ruang publik sesungguhnya sudah ditinggalkan di banyak tempat. Selain mengotori dan tidak nyaman dipandang, kampanye sekarang sudah memakai pendekatan teknologi informasi. “Pengguna smart phone sudah amat banyak, memakai baliho, spanduk dan banner yang dipasang di berbagai arena malah merusak pemandangan. Mending kalau bagus desainnya, saya kira memang era itu sudah harus ditinggalkan. Pakai kampanye modernlah, zaman sudah maju, masa masih pake kampanye cara kuno begitu,” pungkasnya.

Terkait dominasi dalam alat kampanye dan iklan di media cetak, Veri menjelaskan tidak ada jaminan dominan itu menang. Kemenangan dalam pilkada bukan semata karena banyaknya alat peraga, tetapi lebih karena faktor komunikasi politik dan kemampuan meyakinkan pemilih untuk memberi solusi atau membawa perubahan. “Banyak calon yang gagal karena berpikir memasang atribut sebanyak-banyaknya akan membuat menang, yang ada justru pemilih tidak menyukainya. Rakyat atau pemilih membutuhkan pemimpin yang mau melayani dan bekerja untuk kemajuan dan kesejahteraan mereka, itu yang utama,” pungkasnya. – (Fied)