Indopolitika.com  Ketua Umum DPP PAN sekaligus calon wakil presiden dari nomor urut 1, Hatta Rajasa diduga bingung dalam memulai ibadah puasa Ramadhan. Sebagaimana diketahui, Muhammadiyah mengawali puasa pada hari Sabtu, 28 Juni 2014, sedangkan Nahdlatul Ulama (NU) memulai puasa pada hari Minggu, 29 Juni 2014.

Menurut pengamat Politik Islam dari Forum Study Islam dan Masyarakat (FOSIM), Abdul Qodir Jaelani, sebagai ketum PAN yang selalu mendaku merepresentasikan Muhammadiyah, Hatta Rajasa sudah seyogianya menunjukkan pertanggungjawaban elektoralnya. Ia sudah sewajarnya mengikuti puasa dan lebaran sesuai jadwal yang ditetapkan Muhammadiyah. “Hatta sebagai ketua umum PAN dan partai yang mengklaim dengan basis Muhammadiyah, Hatta harus ikut awal puasa dan lebaran bersama Muhammadiyah, Jika tidak, Hatta dan PAN jelas-jelas telah berlaku khianat sebagai orang Muhammadiyah,” kata Qodir.

Tetapi, sangat mungkin, Hatta tak akan mau melakukan itu. Pertimbangan elektoral pencapresan sepertinya telah mendorong Hatta lebih mengasosiasikan diri dan juga kini diaku-aku sebagai nahdliyin. “Cuma ragu, apakah Hatta melakukannya, disaat dia sedang butuh pemilih dari berbagai kalangan utamanya dari pemilih NU”, ujar Qodir.

Yang harus harus diwaspadai, tegas Qodir, jangan sampai hanya karena kepentingan elektoral, Hatta berlaku bak bunglon. Kali ini, bisa saja, ia mengaku diri sebagai nahdliyin. Meski pada pileg lalu jelas-jelas membangun citra sebagai bagian dari Muhammadiyah. “Iya, Hatta diharapkan jangan kayak bunglon, hanya karena alasan elektoral, kemarin saat pileg ngakunya Muhammadiyah, sementara Pilpres ngaku NU”, tutup Qodir. (ind)