Jokowi-JK Menang, Publik Bisa Menilai Mana Lembaga Survei yang Kredibel dan yang Abal-Abal

"Akhirnya publik pun terbuka matanya, mana lembaga survei yang kredibel dan tak kredibel," kata Ari


Indopolitika.com   Tuntas sudah rekapitulasi suara pemilihan presiden (Pilpres) yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Dari hasil rekapitulasi itu, pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla meraih suara terbanyak.

Ketua KPU Husni Kamil Manik di kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Selasa (22/7) saat membacakan hasil rekapitulasi Pilpres menyebut Jokowi-JK menang dengan perolehan suara 70.997.833 atau 53,15 persen. Sementara pasangan nomor urut dua, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mendapatkan 62.576.444 suara atau 46,85 persen.

Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Ari Junaedi mengatakan pengumuman hasil yang baru saja diumumkan KPU memberikan gambaran kepada publik terhadap lembaga survei yang melakukan hitung cepat pada Pilpres 9 Juli 2014 lalu.

“Semua mengklaim surveinya paling tepat dan kredibel,” kata Ari Junaedi yang juga pengajar program S2 di Universitas Dipanegoro itu, di Jakarta, Selasa (21/7).

Ari menjelaskan persaingan pemilihan presiden kali ini memang tak hanya  diwarnai oleh  tim sukses tapi juga ‘perang polling’ antar lembaga survei.  Sebelum dan sesudah pemilihan, publik pun disuguhkan dengan perang polling antar lembaga survei.  Lembaga survei seperti LSN, Puskaptis, JSI dan IRC selalu mengunggulkan Prabowo-Hatta. Sebaliknya lembaga seperti Charta Politika, Cyrus Network, CSIS, Polltracking, LSI, IPI, SMRC, LIPI, Alvara bahkan Litbang Kompas “menjagokan” duet Jokowi-JK.

Namun kata Ari,  akhirnya waktu juga yang membuktikan, siapa yang prediksinya sahih dan mana yang asal-asalan atau abal-abal berdasarkan pesanan. Prediksi Charta tepat. Begitu juga dengan hasil hitung cepat yang dilansir lembaga survei seperti CSIS, Litbang Kompas, RRI, Cyrus, Indikator Politik Indonesia, LSI, Lingkaran Survei Indonesia, Polltracking dan Populi Center, tak jauh beda dengan hasil pantauan situs kawalpemilu.org serta real count KPU.

“Akhirnya publik pun terbuka matanya, mana lembaga survei yang kredibel dan tak kredibel,” kata Ari.

Apalagi, kata Ari,  setelah Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi), melakukan audit dan menyatakan lembaga survei yang memenangkan Jokowi-JK dalam hitung cepatnya, tidak ada masalah dengan data serta metodologinya. Justru lembaga survei yang memenangkan Prabowo-Hatta, enggan diaudit. Ini makin membuat publik curiga. Kian dikuatkan lagi dengan real count KPU, dimana Jokowi-JK juga leading dalam perolehan suara,  mengungguli Prabowo-Hatta dengan angka yang sebenarnya tak jauh beda dengan prediksi Charta maupun hasil quick count beberapa lembaga survei.

“Ini membuktikan, siapa yang abal-abal dan kredibel,” kata dia.

Publik pun, pada akhirnya mengetahui lembaga survei mana yang menggadaikan kaidah ilmiah demi sebuah kepentingan politik atau iming-iming fulus dan lembaga yang taat terhadap kaidah ilmiah dalam surveinya.

“Jadi mana survei yang dikerjakan secara asal-asalan apalagi oleh lembaga jajak pendapat abal-abal, akhirnya diketahui sudah,”kata Ari. (jp/ind)

Next post Wapres Boediono Berikan Ucapan Selamat Kepada Jokowi-JK

Previous post Presiden SBY Minta Semua Pihak Terima Hasil Pilpres

Related Posts