Ruang maya Tangsel kembali menjadi ajang adu argumen antar-pendukung pasangan calon walikota dan wakil walikota periode 2016-2021. Sebagaimana lazimnya menjelang pilkada, isu saling menjagokan pasangan yang didukung mencuat ke permukaan, saat sama mengkritik bahkan menjelekkan lawan juga menjadi lumrah.

Tampaknya pasangan petahana menjadi bulan-bulanan serangan. Kedua pendukung pasangan calon penantang meneriakan kritik bahkan anjuran untuk tak memilihnya. Pasangan Airin-Benyamin dianggap tidak bekerja dan tak membawa Tangsel pada kemajuan yang diinginkan.

Sebaliknya para pendukung pasangan petahana menjelaskan secara gambalang capaian-capaian dan prestasi yang diraih Pemkot Tangsel sebagai buah karya Airin-Benyamin. ‎H. Abdul Rasyid, juru bicara pasangan Airin-Benyamin mengungkapkan, kritik yang ditujukan kepada Airin-Benyamin tentu akan diterima. Namun jika ada mengatakan bahwa keduanya tidak bekerja, tak berbuat apa-apa, pastilah bukan kritik. “Itu menghina namanya. Kita bicara fakta, Airin telah bekerja dan terasa, ” demikian ujar Rasyid yang juga ketua Fraksi Partai Golkar di DPRD Tangsel, dalam keterangannya, Minggu, (23/8/2015).

Rasyid menjelaskan, saat Airin-Benyamin dilantik 20 April 2011, kondisi Tangsel masih karut marut. “Tangsel itu pemkot baru, dibentuk tanggal 26 November 2008, seperti bayi. Di sana sini masih baru dibentuk,” ujarnya.

Airin-Benyamin dipandang telah melakukan terobosan luar biasa dan hasil kepemimpinannya selama kurang lebih lima tahun telah menunjukan hasil yang dapat dirasakan. Rasyid kemudian menunjukan data. Saat Airin dilantik, kondisi jalan lingkungan adalah sepanjang 407,76 km². Dari sepanjang itu 42,4 km² kondisinya baik dan sisanya 365,26 km² rusak atau sangat rusak. Yang dilakukan Airin ungkar Rasyid adalah, tahun 2011 dilakukan peningkatan atau perbaikan jalan sepanjang 131,6 km². Tahun 2012 sepanjang 133,5 km². Kemudian tahun 2013 diperbaiki sepanjang 100,3 KM dan tahun 2014 sepanjang 42,2 km². “Itu artinya sejak dilantik hingga saat ini Airin Benyamin telah memperbaiki jalan rusak sepanjang 407,76 km². Artinya, semua diperbaiki. Tinggal jalan-jalan di perumahan yang assetnya sedang diproses untuk dilimpahkan menjadi asset pemkot,” demikian tutup Rasyid.

Sementara itu, pengamat politik dari ‎Indonesia Political Literacy, Adi Prayitno menilai, perdebatan antarpendukung pasangan calon merupakan hal yang sangat wajar. Menurutnya, perdebatan antarpendukung itu justru positif dan bagian dari proses pendidikan politik.

“Sepanjang berdebat dengan isu-isu pembangunan, adu program dan adu cantik strategi, pasti mendidik. Asal jangan jatuh ke upaya saling menjegal, menjatuhkan, merendahkan martabat dan menghalalkan segala cara,” sebut Adi. (ind)