Direktur Lembaga Penelitian, Penerangan dan Pendidikan Ekonomi-Sosial (LP3ES), AE Priyono menegaskan slogan Revolusi Mental dari Jokowi bukan jawaban terhadap problem politik di Indonesia.

“Kalau mau revolusi, tentu bukan revolusi mental yang dikedepankan, melainkan anjuran revolusi sosial. Jokowi itu sendiri yang harus direvolusi mentalnya karena terbukti ketika menghadapi kekuatan plutonomi dan plutokrasi dia tidak berdaya,” tegasnya saat menjawab pertanyaan dari salahsatu peserta Seminar “Civic-Islam” di Gedung Asia Afrika, Bandung, Sabtu, 14/3.

AE Priyono menegaskan bahwa slogan revolusi mental itu khas pedagang. Saat itu menurut Priyono, rakyat sedang berharap banyak pada dirinya, dan dengan itu ia menawarkan dagangan yang keren.

“Ini adalah problem struktural di mana kaum plutonomi dan plutokrasi itu menggunakan negara untuk kepentingan mereka. Harusnya kalau mau revolusi ya strukturnya, termasuk orang-orang di lingkungannya yang direvolusi terlebih dahulu. Nah, ini membuktikan bahwa Jokowi itu bukan seorang transformis, bahkan reformis saja tidak memperlihatkan. Yang terlihat adalah seorang kompromis,” tegasnya. (jn/ind)