Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Zulkarnain mengatakan penyelidikan kasus dugaan korupsi proyek Wisma Atlet, Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, bakal berlanjut pada penetapan seorang tersangka baru. “Tetap dikembangkan apabila yang bersangkutan masuk kategori Big Fish,” kata Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja, Sabtu, (30/8) lalu.

Penyelidikan baru kasus Wisma Atlet Jakabaring disebut-sebut bakal menyeret orang-orang di Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Selatan, yang diduga menerima suap. Orang pertama yang dimintai pertanggungjawaban adalah Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumatera Selatan sekaligus Ketua Komite Pembangunan Wisma Atlet SEA Games Rizal Abdullah. “Surat perintah penyidikan atas nama RA sudah ada,” kata sebuah sumber. Artinya, KPK segera menyidik kasus tersebut.

Nama Rizal Abdullah sudah santer terdengar di kasus Wisma Atlet. Di muka persidangan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, pada 11 Agustus 2011 Rizal mengaku menerima Rp 400 juta dari PT Duta Graha Indah, perusahaan milik bekas Bendahara Umum Partai Demokrat M. Nazaruddin.

Pengakuan tersebut dilontarkan ketika Rizal bersaksi untuk terdakwa–kini terpidana–Manajer Pemasaran Duta Graha Mohamad El Idris Ketika itu Rizal mengaku tak tahu tujuan pemberian uang itu. “Hanya dibilang, ‘Ini buat Bapak’,” kata dia menirukan El Idris saat penyerahan duit. Uang tunai tersebut telah dia kembalikan ke KPK. Diduga “Bapak” yang dimaksud adalah Gubernur Alex Noerdin. Seperti diketahui, Alex Noerdin sudah beberapa kali diperiksa KPK terkait kasus korupsi wisma atlet tersebut.

Rizal sempat mengungkapkan adanya fee 2,5 persen untuk Alex dari nilai uang muka proyek Rp 33 miliar yang didapat Duta Graha. “Untuk Komite 2,5 persen, Gubernur 2,5 persen,” kata Rizal.

(tmp/ind)