Tangerang – Juru bicara Wahidin Halim-Andika menyatakan paslon dan timses mereka sejak awal kami sudah komit dengan tahapan berjenjang, karena itu amanah Undang-Undang yang berlaku.

“Kami intruksikan kepada semua saksi paslon no 1 untuk tidak hanya berpegang pada hasil quick count atau real count KPU, meskipun hasilnya tidak akan berbeda secara subtansial,” ujar Jazuli Abdillah dalam siaran persnya.

Ia menambahkan, timnya mengikuti proses rekapitulasi dengan baik dan teliti, bila ada perbedaan pada setiap tahapan kan ada formnya seperti C1 dan form DA, bisa di konfirmasi secar terbuka di rapat pleno setiap tingkatan. “Rekapitulasi berjenjang itulah yang penting harus dikawal. Saksi kami kuat dan terlatih, form C1 yang kita miliki sangat kuat jadi pegangan. Hampir seluruh TPS sebanyak 16.540 form C1-nya kita punya” ujarnya.

Sementara itu tim hukum Wahidin-Andika menambahkan bahwa fitnah keji berupa tuduhan kecurangan yang ditimpakan kepada merrka adalah bentuk tindakan tidak fair dan tidak menghargai proses demokrasi yang telah dilaksanakan. ” jujur saja kami melihat itu sebagai ekspresi diri dan bentuk pelampiasan kekecewaan dari yang  kalah. Kami sangat memahami psikologi orang kalah, biasanya protes dan gugatan itu menjadi hiburan sementara saja. Semua tudingan lawan hanya karangan dan hoax,” ujar Ramdansyah kepasa media.

Sementara itu koordinator relawan Perempuan WH-Aa, Rachmayanti menyatakan bahwa kemenangan yang diraih pasangan Wahidin-Andika adalah hasil kerja luar biasa dari pasangan calon, partai pengusung, timses juga para relawan. “Kita sudah bertanding fair, di arena yang sama, waktu kampanye yang sama, tahapannya sama, aturannya sama, wasitnya sama, batasannya sama, kesempatannya jug sama. Kalau kami akhirnya lebih unggul itu karena sistem kerja yang dijalankan lebih efektif, mesin politik bergerak terukur, sistematis dan jelas,” jelasnya.

Rachma berharap semua pihak bisa menerima hasil pilkada ini dengan sportif. “Kita harus sportif. Kami justru dari awal merasa tidak setara, mereka sesungguhnya incumbent. Punya semua infrastruktur untuk melakukan kecurangan. Mereka petahana tapi teriak kecewa karena kalah. Itu seperti melawan kehendak rakyat,” ujarnya.

Rachma menambahkan, rakyat Banten sudah memutuskan memilih WH-ANDIKA. Kasihan masyarakat yang sudah mengorbankan waktu untuk datang ke TPS, tapi karena tak terima kalah akhirnya suara mereka dikorbankan. Sudahlah, semua sudah selesai, mari berdamai,” pungkasnya.