Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) Laode Ida mengaku sangat kasihan melihat wajah Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa akhir-akhir ini. Terutama ketika keduanya memperjuangkan keadilan dan kebenaran di Mahkamah Konstitusi (MK).

“Sebagai orang yang punya rasa kemanusiaan, sebenarnya saya juga kasihan pada Prabowo-Hatta itu. Semula mereka sangat yakin setelah didukung oleh barisan parpol dengan  kuantitas prosentase yang dominan,” ucap Laode di Jakarta, Senin (11/8).

Laode mengatakan, dirinya merasa kasihan karena Prabowo sendiri diduga begitu ambisius dan tidak siap kalah.  Sikap ini diperkuat oleh persepsi orang-orang di sekitarnya, yang mungkin menganggap segala sesuatu bisa di atur di MK setelah gagal di KPU.

“Apalagi sebagian hakim MK yang memiliki latar belakang parpol berada dalam barisan Prabowo-Hatta, di samping yang lainnya diharapkan bisa di back up oleh pihak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY),” cetus senator asal Sulawesi Tenggara itu.

Menurut Laode, para pengacara tentu tak ingin melewatkan kesempatan ini, karena itu juga merupakan pekerjaan mereka. “Problemnya sekarang adalah keterbatasan waktu sehingga pengacara tak bisa menyiapkan berkasnya secara baik,” ujarnya.

Akibatnya, sambungnya, sebagian informasi tak didukung oleh data-data akurat, sehingga sungguh-sungguh sangat tak memadai. Bahkan, sebagian data juga terkesan mengada ada

“Sebagai orang yang punya rasa kemanusiaan, sebenarnya saya juga kasihan pada Prabowo-Hatta itu,” kata Laode.

Wakil Ketua DPD ini lebih jauh mengatakan, kasihan pada Prabowo diperparah dengan sikap partai pendukung yang tetap saja ngotot dengan berbagai dalil artifisial rasional, tetapi tanpa dukungan data yang valid.

“Maka mereka bukan saja mempertontonkan proses degradasi diri di mata publik melainkan juga bisa dianggap mendegradasi konstitusi,” lontarnya.

Secara umum, Laode menilai gugatan Prabowo-Hatta di MK sekarang ini tampaknya sejalan dengan sikap emosional sebagian anggota tim suksesnya yang dipertunjukkan di publik pada saat kampanye yang lalu. Sehingga tak heran jika sbagian data yang diajukan juga asal-asalan atau tak akurat.

“Sayangnya, Prabowo-Hatta sendiri barangkali termakan atau terperangkap pada sikap emosional sebagian orang di sekelilingnya itu. Kondisi seperti ini, sekali lagi, dimanfaat pula oleh para pengacara. Tentu ini bukan salah dari para pengacara, bahkan merupakan bagian dari peluang yang dimanfaatkan di dalam pertarungan politik yang berada dalam suasana panas nan emosional,” kata Laode. (ind/ip)