Gerakan mahasiswa saat ini dinilai melesu entah kemana arahnya. Melihat perkembangan dunia yang serba terintegrasi dalam informasi teknologi, rasa-rasanya perlu ada tinjauan ulang.

Tujuh puluh dua tahun Republik Indonesia berdiri, gerakan mahasiswa juga pemuda tercatat turut mempelopori perubahan-perubahan penting di negeri ini. Berdirinya Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi 1945, turunnya Presiden Soekarno 1965, Malari 1974, hingga tumbangnya Rezim Orde Baru 1998. Pertanyaannya mengapa hal semacamnya tidak kita temui lagi belakangan ini?

Dalam forum Latihan Kader II (LK II) Tingkat Nasional Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciputat, Jum’at malam 22 September 2017, Veri Muhlis, aktivis 1998 yang juga Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasisa IAIN (MPMI) Jakarta 1998 memaparkan sistematika penyebabnya.

“Mahasiswa saat ini menghadapi era keterbukaan informasi. Semua orang berkesempatan menjadi orang keren. Tokoh-tokoh gerakan mahasiswa tidak kita jumpai lagi seperti halnya era 1965, 1974, ataupun 1998”, ungkapnya.

Ini disebabkan perkembangan media sosial. “Orang-orang saat ini lebih sibuk dengan gadget-nya sendiri. Ketimbang sibuk berjuang turun ke jalan mengkritisi pemerintah, orang mendingan pulang tidur-tiduran main handphone,” lanjut pria yang kini Direktur Utama Konsep Indonesia Research & Consulting ini.

Inilah yang mesti ditinjau oleh mahasiswa saat ini. Perlu ada cara baru dengan pemanfaatan media sosial. Veri melanjutkan, sekarang ini siapa saja bisa dengan mudah memengaruhi fikiran orang lain. “Di youtube bahkan ada orang yang setiap uploadnya dilihat banyak orang, meski kontennya hanya hal yang lucu-lucu”, lanjut eks aktivis HMI Ciputat ini.

“Kalau dilihat beberapa tahun belakangan, revolusi di berbagai negara Timur Tengah pun diawali dari media sosial. Karena itu HMI harus menetapkan format baru pergerakan mahasiswa,” tegas Veri.

Di lokasi acara mantan Kabid Pembinaan Anggota HMI Cabang Ciputat Muhtar Sadili mengamini gerakan mahasiswa sebagi mata rantai dari pengkaderan HMI tidak bisa menghindar dari kemajuan tekhnologi informasi yang berkembang pesat.

Mantan Kabid I Senat Mahasiswa Istitut IAIN Jakarta ini, menambahkan konsistensi menyebarkan nilai identitas kader dengan sekuat tenaga mencari model strategis dan realistis. “Dulu kami biasa menggunakan parlemen jalanan dalam menyuarkan aspirasi perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sekarang dunia sudah dilipat ke dalam sebuah gadget,” pesannya.

“Seorang kader HMI harus tetap menyuarakan nilai perjuangan, karena insan kamil itu sebuah proses tiada henti,” tutupnya.

Acara Latihan Kader (LK) II berlangsung di Aula Kopertais UIN Jakarta, tanggal 17 – 24 September 2017. Dengan peserta perwakilan kader HMI Cabang se-Indonesia. (ms/ind)