Lembaga Suvei Politik Indonesia (LSPI) merilis hasil survei Pilkada Kota Palembang 2018, yang digelar Bulan April-Mei 2018. Kesimpulannya ada tiga kandidat dipandang pantas memimpin Kota Palembang.

Koordinator Riset LSPI Indonesia Barat, Muchtar S Syihab menyatakan, lembaganya memantau perkembangan persepsi pemilih Kota Palembang dan mengukur peta dukungan secara berkala. Ia menegaskan, sepanjang belum ada calon resmi yang disahkan KPUD, cara terbaik mengukur calon kandidat terkuat dengan menguji apakah publik mengenal, menyukai, menerima dan bagaimana mereka menilainya.”Survei akan menjadi semacam fit and proper test,” ungkap Muchtar dalam keterangannya, Senin (12/6).

Dalam survei terkini yang digelar lembaganya, Muchtar mengatakan responden menilai Pilkada Kota Palembang 2018 tak ada hal yang mencolok. Sebab, para peserta yang sudah bersosialisasi masih orang-orang lama.

Walau ada kejutan dengan munculnya figur baru seperti Lury Alex Noerdin, namun responden menilainya wajar. “Lury dianggap kelanjutan trah Alex Noerdin, jadi sama sekali bukan figur baru, namun demikian responden berpendapat Lury pantas saja jadi pemimpin mereka namun untuk periode sekarang ini lebih pas jika jadi wakil walikota,” ujarnya.

Muchtar memaparkan, saat responden disoal siapakah bakal calon yang dianggap pantas menjadi Walikota Palembang? “Responden menjawab, Mularis Djahri 20,99 persen, Sari Muda 18,26 persen, Harno 15,44 persen, sisanya terbagi pada beberapa nama lain. Tiga nama bakal calon punya derajat yang sama, artinya sama-sama dianggap pantas jadi walikota,” ungkapnya.

Pertanyaan yang diajukan kepada responden ini menurut Muchtar sengaja diajukan mengingat banyaknya komentar mengenai sosok bakal calon yang telah beredar. Komentar yang berhasil dihimpun melalui (Focus Group Discussion) dan analisis sosial media menunjukan publik enggan dipimpin oleh figur yang korup, sudah tua, lemah, tidak tegas, berada dibawah bayang-bayang kekuasaan pihak lain, berpenampilan tidak menarik dan tidak memiliki cukup resource untuk bergerak.”Dari latar belakang itu kita cek melalui survei dengan jumlah responden sebanyak 800 orang dan margin of error sebesar 3,46%, pada tingkat kepercayaan 95%,” tutup Muchtar.

Sementara itu Agus S. Maulana, Direktur Riset LSPI menambahkan, ada tren baru dalam Pilkada yang bisa dipelajari dari dua kali pelaksanaan pilkada serentak, yaitu banyak calon petahana dan calon yang dominan justru tumbang di medan perang.”Itu terjadi karena terlalu menonjolkan aspek elektabilitas sedari awal, padahal elektabilitas itu dinamis bergantung pada peristiwa dan kerja kampanye yang menyertainya. Artinya, jangan pernah berpikir sekali diukur melalui survei elektabilitasnya tinggi, apalagi masih dalam arsir margin of error, kemudian merasa akan menang, banyak calon tumbang karena terbuai hasil survei model begitu,” pungkasnya.