Muncul penelitian baru mengenai lumpur yang menenggelamkan sejumlah desa di Sidoarjo. Didalamnya ada kesimpulan kemunculan Lumpur Lapindo Sidoarjo (LUSI) disebabkan peristiwa alamiah.

Hasil studi itu dilaporkan dalam jurnal Nature Geoscience. Studi itu menyebutkan, penyebab menyemburnya lumpur Sidoarjo di Jawa Timur bukan pemboran minyak, melainkan gempa yang terjadi dekat Yogyakarta, Jawa Tengah.

Gempa yang terjadi dua hari sebelumnya itu menelan 6000 korban jiwa. Studi dilakukan pakar geodinamika, Professor Stephen Miller dari Universitas Bonn di Jerman. Dia mendukung gagasan bahwa luapan lumpur itu dipicu oleh penyebab alam. Menurut Miller, meluapnya lumpur disebabkan gempa berkekuatan 6.3 skala richter yang terjadi dua hari sebelumnya dekat Yogyakarta. “Kami berkonklusi luapan lumpur Lusi disebabkan oleh peristiwa alamiah,“ jelasnya, dalam siaran pers, Selasa (27/5).

Meskipun jarak kejadian kedua peristiwa itu mencapai 250 kilometer, bentuk dan struktur formasi batuan di Sidoarjo memiliki karaketistik lensa yang mengamplifikasi dan memfokuskan gelombang seismik dari Yogyakarta.

Diduga, gejolak energi telah mencairkan sumber lumpur, menyebabkan tumpahnya ke dalam patahan yang terkoneksi dengan sistem hydrothermal yang sangat dalam. Tekanan panas itulah yang menyebabkan terjadinya luapan lumpur. Tim Jerman itu mencapai kesimpulan tersebut setelah melakukan simulasi didasarkan pada data mengenai karakteristik fisik struktur batuan sekitar lumpur. Tim yang dipimpinnya menyimpulkan, formasi batuan itu mengandung lapisan berbentuk lensa yang memperbesar dan memusatkan energi seismik dari gempa itu.

Sementara itu, pengamat politik Konsep Indonesia (Konsepindo), Budiman Hidayat mengatakan bahwa Lumpur Sidoarjo telah menjadi komoditas isu politik. “Selain menjadi sebuah tragedi, Lumpur Sidoarjo sudah lama menjadi komoditas bagi isu poilitik yang dimanfaatkan oleh sebagian elit politik di negeri ini” jelas Budiman.

“Karena jadi komoditas politik, Lumpur Siduarjo menjadi beban, utamanya bagi keluarga Bakrie,” tutup Budiman. (Ind/bd)