Indopolitika.com – Tekad Jokowi dalam memberantas mafia minyak dan gas (Migas) menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi kalangan ‘pengusaha hitam’. Tak terkecuali kalangan internal partai yang disebut Geng Tancho yang diketahui terlibat permainan haram tersebut.

Sumber internal PDIP menyebutkan, istilah Geng Tancho merujuk pada penampilan mereka yang klimis dan rapi. Mereka berdiri di belakang salah satu elit PDIP. Di antara mereka, sebagaimana telah beredar di media, ada nama Bambang Wuyanto, Effendi Simbolon dan Erico Sutarduga.

“Geng Tancho saat ini seperti mobil mogok.  Mereka lebih khawatir masa depan mereka jika Jokowi jadi presiden,” kata seorang sumber PDIP yang tak mau disebutkan namanya di Jakarta, Rabu (18/6).

Menurutnya, sejak PDIP memilih Jusuf Kalla sebagai pendamping Jokowi, mereka sama sekali tidak bergerak untuk partai. Mereka belum terlihat bekerja, berkampanye memenangkan pasangan Jokowi-JK. Penyebabnya, pasangan ini diyakini akan membabat habis mafia Migas yang dianggap telah merugikan negara.

“Sebagai bagian dari pemain migas, ES dan BW jelas kelimpungan. Keduanya sudah dikenal luas jadi kaki tangan ARB dalam urusan Migas. Baik dalam urusan korporasi atau dengan menjegal regulasi yang merugikan mereka,” ujarnya.

Selain faktor itu, lanjutnya, diketahui bahwa Geng Tancho juga kecewa karena Puan Maharani gagal menjadi cawapres Jokowi. Meski Puan sendiri telah menerima sepenuhnya keputusan partai, mereka tetap ogah-ogahan dukung Jokowi-JK. Bahkan ada kecenderungan mereka mengalihkan dukungan ke Parbowo-Hatta demi mengamankan bisnisnya.

“Mungkin berpikirnya di sana lebih aman. Sebab kabarnya kan relasi HR (red: Hatta Rajasa) dengan Riza Chalid sudah lebih dari sekadar akrab. Bahkan, ditengarai intervensi itu akan semakin dalam,” tandasnya. (Ind)