Fadjroel Rachman dinilai harus turun langsung ke masyarakat jika benar ingin mencalonkan diri dalam pemilihan kepala daerah (pilkada). Sebelumnya, ia telah mendeklarasikan diri akan ikut pertarungan memperebutkan kursi Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) pada 2016 mendatang.

Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, mengatakan bila Fadjroel serius ingin mengikuti pilkada Kalsel, ia harus memperkenalkan diri dan menyosialisasikan gagasan, visi dan misinya agar masyarakat tahu dan memahami.

“Bila masa sosialisasinya pendek dan masyarakat tidak akrab dengan Fadjroel, maka sulit diprediksikan ia akan memenangkan pilkada atau tidak,” jelasnya, Ahad (8/2).

Ia menjelaskan, pada dasarnya pilkada langsung memiliki konsep mengkontestasikan kandidat, bukan partai. Bila kandidatnya dikenal dan dipercaya rakyat, tak menutup kemungkinan akan memenangkan pilkada.

“Sebaliknya, bila hanya partainya saja yang besar, tapi calonnya tak nyambung dengan aspirasi rakyat, akan sulit pula untuk menang,” ujar dia.

Menurutnya, pilkada serentak masih memberi peluang besar bagi kandidat indepeden untuk ikut berkontestasi. Selama rentang waktu 2005 sampai 2014 ada sekitar 6 pimpinan daerah yang diketahui berasal dari calon independen.

“Jumlahnya memang masih sangat sedikit dibandingkan dengan yang berasal dari parpol/gabungan parpol,” ungkapnya.

Hal tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa kandidat independen perlu upaya serius dan maksimal untuk memenangkan pilkada. Begitupun dengan yang harus dilakukan oleh Fadjroel yang disebut akan melenggang maju menjadi calon gubernur Kalsel secara independen. (rep/ind)